PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Di tengah dominasi ponsel pintar yang berlomba pada kamera, prosesor, dan ekosistem aplikasi, Vertu kembali muncul sebagai anomali yang memukau. Pada 2017, perusahaan asal Inggris itu merilis Vertu Signature Cobra, sebuah perangkat genggam yang lebih mirip karya perhiasan ketimbang alat komunikasi. Harganya saat meluncur mencapai US$360.000 atau sekitar Rp 4,7 miliar, menjadikannya salah satu ponsel termahal yang pernah dijual secara resmi.
Keunikan utama Signature Cobra terletak pada desainnya yang nyaris teatrikal: sebuah ular kobra berlapis emas dan perhiasan melilit bodinya. Media teknologi seperti GizChina (22 Mei 2017) mencatat bahwa ornamen kobra itu ditatah menggunakan 439 batu rubi, sementara bagian mata memakai batu zamrud asli. Semua proses perakitan dilakukan secara manual oleh pengrajin perhiasan asal Prancis, Boucheron.
Meski tampil menakjubkan dari sisi kemewahan, perangkat ini sesungguhnya hanyalah sebuah feature phone bukan smartphone. Seperti dicatat Kompas Tekno (24 Mei 2017), ponsel ini hanya mengandalkan fungsi dasar seperti telepon dan SMS, tanpa layar sentuh atau kemampuan menjalankan aplikasi modern. Namun justru keterbatasan itulah yang menjadi bagian dari “etos mewah” Vertu: eksklusivitas, kemurnian fungsi, dan prestise.
Vertu memproduksi Signature Cobra dalam jumlah yang ekstrem: hanya delapan unit di seluruh dunia. GizChina menyatakan unit pertama langsung terjual, sementara permintaan berikutnya dipenuhi menggunakan sistem pemesanan dengan pengiriman khusus bahkan dalam beberapa kasus dikawal dengan helikopter, sebagaimana diberitakan Kompas Tekno.
Di luar kemewahan material, Signature Cobra lebih merepresentasikan estetika industri yang menjadikan perangkat genggam sebagai simbol status. Ia bukan ponsel untuk dipakai beraktivitas harian, melainkan objek koleksi kelas atas, serupa jam tangan mekanik atau perhiasan bernilai tinggi.
Di era ketika spesifikasi menjadi medan kompetisi utama produsen teknologi, Vertu Signature Cobra berdiri di sudut yang berbeda: sebuah ironi sekaligus pernyataan bahwa bagi sebagian orang, kemewahan masih bertakhta jauh di atas kecanggihan.




