PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo resmi membuka Pelatihan Kader Lanjut (PKL) X dengan mengusung tema “PMII Probolinggo: Merawat Nilai, Merekonstruksi Perjuangan”. Kegiatan kaderisasi tingkat lanjut tersebut berlangsung di UPT PTKP3 Probolinggo dan digelar selama lima hari, mulai 24 hingga 28 Juni 2026.
Pembukaan PKL X dihadiri sejumlah tokoh organisasi, alumni, pemerintah daerah, hingga unsur keamanan. Hadir perwakilan Pengurus Besar (PB) PMII Bagaskara Dwy Pamungkas, perwakilan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur Mahsum Sudi, Ketua PC PMII Probolinggo Dedi Bayu Angga, anggota DPRD Jawa Timur Multazamudz Dzikri, perwakilan DPRD Kabupaten Probolinggo, Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Probolinggo Abu Umar, serta jajaran pemerintah dan aparat keamanan.
Peserta PKL X tidak hanya berasal dari Probolinggo, tetapi juga datang dari sejumlah daerah seperti Bali, Surabaya, Malang, dan Tulungagung. Mereka mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas intelektual, ideologi, serta strategi gerakan kader.
Ketua PC PMII Probolinggo Dedi Bayu Angga mengatakan kaderisasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi. Menurut dia, kader PMII harus mampu menghadapi perubahan zaman dengan bekal keilmuan dan kemampuan membaca kondisi sosial.
“Kader PMII harus terus memperkuat kapasitas keilmuan dan gerakan. Organisasi ini lahir dari tradisi intelektual yang kuat serta semangat pengabdian kepada umat dan bangsa,” ujar Dedi.
Ia menilai PKL X menjadi ruang penting untuk melahirkan kader yang tidak hanya memahami nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan sosial, politik, ekonomi, hingga teknologi.
“PMII membutuhkan kader yang mampu menjaga tradisi keilmuan sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Dedi.
Sementara itu, perwakilan PKC PMII Jawa Timur Mahsum Sudi menyebut PKL merupakan jenjang strategis setelah kader mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD). Pada tahap ini, kader mendapatkan pendalaman ideologi, strategi perjuangan, konstitusi organisasi, serta penguatan disiplin kader.
“PKL adalah agenda kaderisasi yang wajib ditempuh setelah PKD. Peserta akan mendapatkan penguatan terkait ideologi organisasi, perspektif gerakan, hingga strategi perjuangan,” ujar Mahsum.
Menurut dia, tantangan organisasi ke depan membutuhkan kader dengan kemampuan berpikir kritis, wawasan luas, serta kesiapan menghadapi perubahan masyarakat.
Mahsum menegaskan PMII tidak hanya menjadi organisasi kemahasiswaan, tetapi juga wadah pembentukan intelektual muda yang memiliki orientasi kebangsaan dan keislaman.
“Era baru PMII membutuhkan kader yang memahami ideologi organisasi secara utuh, memiliki perspektif luas, mampu menyusun strategi gerakan, dan menjunjung tinggi disiplin kader,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan PB PMII Bagaskara Dwy Pamungkas yang membuka secara resmi PKL X menekankan bahwa kaderisasi merupakan fondasi utama perjalanan organisasi.
“Kaderisasi merupakan jantung organisasi yang menentukan arah masa depan PMII,” kata Bagas.
Ia meminta peserta PKL memahami sistem kaderisasi, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), serta nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai dasar membentuk karakter kader.
Bagas berharap kader PMII mampu menghasilkan karya nyata dan hadir memberikan kontribusi bagi masyarakat. Menurutnya, proses pelatihan bukan hanya tentang memahami teori organisasi, tetapi juga membangun kepemimpinan, kemampuan analisis, dan kepedulian sosial.
Melalui PKL X ini, PMII Probolinggo berharap lahir kader-kader yang mampu menjaga tradisi intelektual organisasi sekaligus menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.




