Malam beranjak bersama sepi
Kidung rembulan memecah sinar
Bintang gemintang yang menghias
Menghibur deru sunyi sang singa
Sejenak anganku berlabuh bersama masa lalu
Masa yang kelam, saat aku kehilangan ibu
Ibu
Nama itu yang menghantuiku
Kuberderu dalam tangis
Air mata mengalir deras
Secepat embun berharap kemarau
Lantaran aku tak lagi mampu menjamahmu
Aku rindu cintamu dalam kasih
Saat-saatku di pangkuanmu
Kau mandikan aku
Kau suapi aku dalam rasa kasihmu
Saat aku kesulitan, ku selalu berteriak
“Ibu……!”
Namamu yang aku panggil dahulu
Kini tinggal angan, tinggal bayangan
Ingin aku menangis
Tumpahkan air mata
Lantaran kasihmu yang hilang
Terjemput tangan kematian tuhan
Bila akucingat
Tubuhmu yang terbaring diam
Sungguh kejam bagiku
Kau pergi tinggalkanku selamanya
Kini aku tah tahu
Kapan lagi aku kan memelukmu
Berpangku dalam hangat kasihmu
Hanya Tuhan tempatku mengadu
Dalam syair puisi
Aku mendekapmu
Mendayu dalam kasih
Terurai dalam tangis dan air mata
Ibu, bersama do’a
Aku merindukanmu
Tenanglah dalam syurga tuhan
Hingga mimpi terjadi di akhir nanti
Yogyakarta, 2014
![]() |
| Sketsa “Penyiar Sendirian” Karya Mujibur Rohman |
Puisi
Menyirat dalam sejarah
Tentang malam di keheningan malam
Merangkai kata dalam sepi
Tentang hati yang di relung sunyi
Di atas kertas yang suci
Kuukir nirwana surga
Kuterjun di lautan emosi
Hingga jiwaku terdampar dalam imajinasi
Di sini aku berteriak
Bersayap terbang bersama angin
Menerjang pohon nan risau
Mengukir sejarah dalam puisi
Syair-syair itu
Tersirat dalam senyum rembulan
Hingga akupun berderu
Aku tak hidup tanpamu
Yogyakarta, 2014
Hilang
April telah hilang,
menyusul Februari
setelah terpaut indahnya
Januari Yogyakarta, 2015
Sinar
mentari datang
embun berlalu lalang
aku bisu tanpamu
Yogyakarta, 2015
Penyair
Halus dalam kata
Tersirat seribu makna
Sumenep, 2015
Mimpi
Qwerty
Misteri tujuh pelangi
Hilang satu
Terhimpit lekukan batu
Aku
Nama yang tak terpaku
Di lembaran dinding prasasti
Berharap sebatas mimpi
Puisi
Yang ku ukir di perantauan luka
Mengija arti
Menata diri menuju abadi
Yogyakarta, 2015
Siapa
Siapa berani menutup luka
Kan kuukir pada indah cakrawala
Sumenep, 2015
Pemuda
Berdiri tegak berlapis emas
Mendongakkan kepala
Mendengungkan suara
“Negara kita telah merdeka”
Dalam sumpah sang pemuda
Terdapat ikrar dalam diri pemuda
Pemuda dalam ikrar
Tekad ikrar dalam pemuda
Menjelma langit bersorak semangat
Mengaung dengan tangan terkepal
Satukan tekad membangun negeri
Menjadi saksi sang kibar merah putih
Terjelma dalam tanah air yang terhampar
Bersaksi dalam luasnya samudra
Berjuang tanpa pamrih
Merekalah sang pahlawan sejati
Ibu pertiwipun tersenyum
Hingga sang revolusionerpun berkata
“Berikan aku satu pemuda
Akan ku goncang dunia”
Yogyakarta, 2014
Ali Munir Sangkakala, Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang tinggal di daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif menulis puisi dan cerpen, tergabung di Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma UIN Sunan Kalijaga. Buku antologi puisi dan cerpen bersama-nya yang pernah terbit sebanyak 5 buku, salah satu diantaranya berjudul “Potret Langit ” yang diterbitkan oleh Oase Pustaka (Surakarta) dan “Sekeping Hati Di Langit Kelabu” oleh FAM Publishing (Kediri). Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 087738783823. E-Mail: [email protected]. FB. Ali Munir





