Puisi  

Puisi Pilihan di Perantauan Karya Ali Munir Sangkakala

Ibu

Malam beranjak bersama sepi
Kidung rembulan memecah sinar
Bintang gemintang yang menghias
Menghibur deru sunyi sang singa

Sejenak anganku berlabuh bersama masa lalu
Masa yang kelam, saat aku kehilangan ibu
Ibu
Nama itu yang menghantuiku

Kuberderu dalam tangis
Air mata mengalir deras
Secepat embun berharap kemarau
Lantaran aku tak lagi mampu menjamahmu

Aku rindu cintamu dalam kasih
Saat-saatku di pangkuanmu
Kau mandikan aku
Kau suapi aku dalam rasa kasihmu

Saat aku kesulitan, ku selalu berteriak
“Ibu……!”
Namamu yang aku panggil dahulu
Kini tinggal angan, tinggal bayangan

 Ingin aku menangis
Tumpahkan air mata
Lantaran kasihmu yang hilang
Terjemput tangan kematian tuhan

Bila akucingat
Tubuhmu yang terbaring diam
Sungguh kejam bagiku
Kau pergi tinggalkanku selamanya

Kini aku tah tahu
Kapan lagi aku kan memelukmu
Berpangku dalam hangat kasihmu
Hanya Tuhan tempatku mengadu

Dalam syair puisi
Aku mendekapmu
Mendayu dalam kasih
Terurai dalam tangis dan air mata

Ibu, bersama do’a
Aku merindukanmu
Tenanglah dalam syurga tuhan
Hingga mimpi terjadi di akhir nanti

Yogyakarta, 2014

Sketsa “Penyiar Sendirian” Karya Mujibur Rohman
Baca juga  Puisi Menjadi Penyair Lagi - Puisi Acep Zamzam Noor

Puisi 

Menyirat dalam sejarah
Tentang malam di keheningan malam
Merangkai kata dalam sepi
Tentang hati yang di relung sunyi

Di atas kertas yang suci
Kuukir nirwana surga
Kuterjun di lautan emosi
Hingga jiwaku terdampar dalam imajinasi

Di sini aku berteriak
Bersayap terbang bersama angin
Menerjang pohon nan risau
Mengukir sejarah dalam puisi

Syair-syair itu
Tersirat dalam senyum rembulan
Hingga akupun berderu
Aku tak hidup tanpamu

Yogyakarta, 2014

Hilang

April telah hilang,
menyusul Februari
setelah terpaut indahnya

Januari Yogyakarta, 2015

Sinar 

mentari datang
embun berlalu lalang

aku bisu tanpamu

Yogyakarta, 2015

Penyair 

Halus dalam kata
Tersirat seribu makna

Sumenep, 2015

Mimpi 

Qwerty
Misteri tujuh pelangi
Hilang satu
Terhimpit lekukan batu

Aku
Nama yang tak terpaku
Di lembaran dinding prasasti
Berharap sebatas mimpi

Puisi
Yang ku ukir di perantauan luka
Mengija arti
Menata diri menuju abadi

Yogyakarta, 2015

Siapa 

Siapa berani menutup luka
Kan kuukir pada indah cakrawala

Sumenep, 2015

Pemuda 

Berdiri tegak berlapis emas
Mendongakkan kepala
Mendengungkan suara
“Negara kita telah merdeka”

Baca juga  Sajak Salman Al-Farisi

Dalam sumpah sang pemuda
Terdapat ikrar dalam diri pemuda
Pemuda dalam ikrar
Tekad ikrar dalam pemuda

Menjelma langit bersorak semangat
Mengaung dengan tangan terkepal
Satukan tekad membangun negeri
Menjadi saksi sang kibar merah putih

Terjelma dalam tanah air yang terhampar
Bersaksi dalam luasnya samudra
Berjuang tanpa pamrih
Merekalah sang pahlawan sejati

Ibu pertiwipun tersenyum
Hingga sang revolusionerpun berkata
“Berikan aku satu pemuda
Akan ku goncang dunia”

Yogyakarta, 2014

Ali Munir Sangkakala, Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang tinggal di daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif menulis puisi dan cerpen, tergabung di Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma UIN Sunan Kalijaga. Buku antologi puisi dan cerpen bersama-nya yang pernah terbit sebanyak 5 buku, salah satu diantaranya berjudul “Potret Langit ” yang diterbitkan oleh Oase Pustaka (Surakarta) dan “Sekeping Hati Di Langit Kelabu” oleh FAM Publishing (Kediri). Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 087738783823. E-Mail: [email protected]. FB. Ali Munir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *