Tiba
Tiba-tiba ku ingin berucap
Padamu
Tentang sunyi yang sembunyi
Di ubun-ubunku
Yang hendak mendekap jemarimu, dengan segera
Dengarlah, diamku
Ialah ribuan kata yang gagal dilenturkan lisan
Dengarlah, detakku
Yaitu, gertakan waktu yang tak terikat angka
Dengarlah, langkahku
Yang kian dekat, tapi tak kunjung sampai
Dengarlah, dirimu
Disana ada aku
Yang sembunyi di balik ragu
Diriku/dirimu
Setiap aku ingin tidak mencintaimu
Justru aku mencintaimu lebih
Setiap aku ingin berhenti memikirkanmu
Saat itu aku tambah memikirkanmu
Aku tidak mengerti
Mengapa harus ada kamu dalam aku
Atau aku yang sedang dalam dirimu
Hari berganti hari
Kemaren telah diganti sekarang
Tetapi kamu tidak terganti
Ketika kau datang dalam fikiran
Kau menjelma perempuan berkerudung pink
Bersyal hitam, dan itulah hari pertama kita bertemu
Kenangan tak larut dalam lautan ingatan
Meski kini usia perjumpaan itu mengainjak dua
Kau tak pernah cuti dalam fikiranku
Bayangmu selalu membuntuti dimana ku berada
Entah siapa yang saat ini hadir
Dirimu atau diriku
Delusi
Kau datang, Kau pergi
Dia pergi, Kau datang
Kau dan Dia datang
Dia dan Kau pergi
Di warung kopi
Ku tinggal sendiri
Sepi tapi ramai
Ramai tapi sepi
Angin pergi resepsi
Pohon menjadi hidangan
Sepasang merpati kawin
Tapi tak kunjung terbang
Kau datang, Kau pergi
Aku di sini
Sketsa 1 Cm
Wajahmu terperangkap ponsel
Lalu aku menyalin ke kanvas
Sial
Kau kabur
Ingin kutangkap engkau sebagai wanita, cantikmu yang beringas, akan kupenjarakan dalam ponsel, berkamera kinclong.
Tapi lebih sial
Sebelum sempat aku tangkap
Kau selalu kabur, pewarna dan kain tidak bisa menerjemahkanmu
Frustasi
Ku gambar sepasang air terjun
Yang mengairi matamu
Ku gambar savana
Lebat bibirmu
Ku gambar gunung
Menjulang hidungmu
Gagal
Ku gambar diriku
Ku lari padamu
Indonesia Tua
Indonesia tanah air siapa
Negerinya tak pernah kaya
Indonesia sejak dulu kala
Sudah dijajah bangsa-bangsa
Disana rakyatnya di perah
Diperas, diambil ampasnya
Tempat koruptor bersandiwara
Rakyat dikhianati janjinya
Sungguh indah indonesia raya
Sampah dan limbah dimana-mana
Tiada tandingannya di dunia
Indah alam mitos belaka
Mungkin tuhan lupa
Indonesia ditanam, tanpa dipupuk manusianya
Akibatnya, tanah dihisap, hutan disulap jadi asap
Tapi kau tetap ku puja
Meski kini kau gubuk reot, di gerogoti zaman
Tapi kau tetap ku cinta
Meski sudah tua
Tempat bernaung anak kurang gizi
Sampai akhir nanti mati.
Bius Kota
Kota mengajari kita berkata boros
Kampung menuntun kita berucap hemat
Kaum kota yang serakah
Serakan plastik, sampah tak terurai, menumpuk
Penampungan hanya mampu mengusap dada
Sementara ditampung dulu, lalu jadi pakan ikan di laut
Pabrik megah
Masjid megah
Gereja megah
Jalan mulus
Mall
Macet
Polusi, Pengap, Polisi, Bengal
Plang batas kompleks perumahan:
Pemulung dilarang masuk
Masuk saja pakai mobil!!!
Manusia pinggir
Batas kali
Sudut kota
Kota membius manusia, manusia membisu




