TIba (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Kota Mengajarkan Boros (foto: ist)
Kota Mengajarkan Boros (foto: ist)

Tiba

Tiba-tiba ku ingin berucap

Padamu

Tentang sunyi yang sembunyi

Di ubun-ubunku

Yang hendak mendekap jemarimu, dengan segera

Dengarlah, diamku

Ialah ribuan kata yang gagal dilenturkan lisan

Dengarlah, detakku

Yaitu, gertakan waktu yang tak terikat angka

Dengarlah, langkahku

Yang kian dekat, tapi tak kunjung sampai

Dengarlah, dirimu

Disana ada aku

Yang sembunyi di balik ragu

Diriku/dirimu

Setiap aku ingin tidak mencintaimu

Justru aku mencintaimu lebih

Setiap aku ingin berhenti memikirkanmu

Saat itu aku tambah memikirkanmu

Aku tidak mengerti

Mengapa harus ada kamu dalam aku

Atau aku yang sedang dalam dirimu

Hari berganti hari

Kemaren telah diganti sekarang

Tetapi kamu tidak terganti

Ketika kau datang dalam fikiran

Kau menjelma perempuan berkerudung pink

Bersyal hitam, dan itulah hari pertama kita bertemu

Kenangan tak larut dalam lautan ingatan

Meski kini usia perjumpaan itu mengainjak dua

Kau tak pernah cuti dalam fikiranku

Baca juga  Kangen

Bayangmu selalu membuntuti dimana ku berada

Entah siapa yang saat ini hadir

Dirimu atau diriku

Delusi

Kau datang, Kau pergi

Dia pergi, Kau datang

Kau dan Dia datang

Dia dan Kau pergi

Di warung kopi

Ku tinggal sendiri

Sepi tapi ramai

Ramai tapi sepi

Angin pergi resepsi

Pohon menjadi hidangan

Sepasang merpati kawin

Tapi tak kunjung terbang

Kau datang, Kau pergi

Aku di sini

Sketsa 1 Cm

Wajahmu terperangkap ponsel

Lalu aku menyalin ke kanvas

Sial

Kau kabur

Ingin kutangkap engkau sebagai wanita, cantikmu yang beringas, akan kupenjarakan dalam ponsel, berkamera kinclong.

Tapi lebih sial

Sebelum sempat aku tangkap

Kau selalu kabur, pewarna dan kain tidak bisa menerjemahkanmu

Frustasi

Ku gambar sepasang air terjun

Yang mengairi matamu

Ku gambar savana

Lebat bibirmu

Ku gambar gunung

Menjulang hidungmu

Gagal

Ku gambar diriku

Ku lari padamu

Indonesia Tua

Indonesia tanah air siapa

Baca juga  Sloki

Negerinya tak pernah kaya

Indonesia sejak dulu kala

Sudah dijajah bangsa-bangsa

Disana rakyatnya di perah

Diperas, diambil ampasnya

Tempat koruptor bersandiwara

Rakyat dikhianati janjinya

Sungguh indah indonesia raya

Sampah dan limbah dimana-mana

Tiada tandingannya di dunia

Indah alam mitos belaka

Mungkin tuhan lupa

Indonesia ditanam, tanpa dipupuk manusianya

Akibatnya, tanah dihisap, hutan disulap jadi asap

Tapi kau tetap ku puja

Meski kini kau gubuk reot, di gerogoti zaman

Tapi kau tetap ku cinta

Meski sudah tua

Tempat bernaung anak kurang gizi

Sampai akhir nanti mati.

Bius Kota

Kota mengajari kita berkata boros

Kampung menuntun kita berucap hemat

Kaum kota yang serakah

Serakan plastik, sampah tak terurai, menumpuk

Penampungan hanya mampu mengusap dada

Sementara ditampung dulu, lalu jadi pakan ikan di laut

Pabrik megah

Masjid megah

Gereja megah

Jalan mulus

Mall

Macet

Polusi, Pengap, Polisi, Bengal

Plang batas kompleks perumahan:

Pemulung dilarang masuk

Masuk saja pakai mobil!!!

Manusia pinggir

Batas kali

Sudut kota

Kota membius manusia, manusia membisu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *