TIba (Sajak-sajak Tan Hamzah)
Puisi, Sastra  

TIba (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Tiba Tiba-tiba ku ingin berucap Padamu Tentang sunyi yang sembunyi Di ubun-ubunku Yang hendak mendekap jemarimu, dengan segera Dengarlah, diamku Ialah ribuan kata yang gagal dilenturkan lisan Dengarlah, detakku Yaitu,…

Rindu Rendra Dalam Puisi
Puisi, Sastra  

Rindu Rendra Dalam Puisi

PILIHANRAKYAT.ID, Jakartab-ANTOLOGI Puisi untuk Rendra: “Rindu Rendra” dalam rangkaian acara Rindu Rendra: Satu Dekade Mengenang Rendra – Megatruh ini ditulis, tidak hanya oleh para penyair tetapi juga oleh para penggemarnya,…

Satu Minggu Indonesia
News, Puisi, Sastra  

Satu Minggu Indonesia

Oleh: Tan Hamzah Selamat pagi pemirsa, minggu ini tetap seminggu, di hari minggu, hari di ujung urutan mingguan !!!!!! merah. Minggu ini hanya akan mengulas berita minggu kemaren, yang telah…

Kangen
News, Puisi, Sastra  

Kangen

Oleh: Tan Hamzah Pernahkah kau merasa, angin tanpa hembus, api tanpa hangat, embun tanpa basah, ombak tanpa gelombang, gurun tanpa gersang, atau kabut tanpa buram Seumpama diantara mereka hadir tapi…

Dialog Kota
News, Puisi, Sastra  

Dialog Kota

Oleh: Tan Hamzah Suatu pagi Ibu membangunkan anaknya Ibu satu, pemeran Satu Pergi sekolah, mengantar dengan mobil Ibu dua, pemeran dua Mengantar dengan gerobak Mengajari anak menjemput rezeki Secukupnya, hasil…

Ibu Hutan
News, Puisi, Sastra  

Ibu Hutan

Oleh: Tan Hamzah Hutan punya Ibu, yaitu Ibu Hutan Ibu itu bumi, mengandung tanah Menjaga hijau mata Perut ibu, buncit, bundar, gemes Air ialah darah Akar ialah nadi Sedang pohon…

Sayang (Sajak-sajak Tan Hamzah)
Puisi, Sastra  

Sayang (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Sayang Sayang, sayang sayang; Sayang Sayang: Sayang sayang. sayang Merah Oktober di Moskow Bersemi di Berlin Hujan melanda Jamur tank merayap Merah merah di jalan Manusia berjalan tanpa bayangan Palu,…

Oktober (Sajak-sajak Tan Hamzah)
Puisi, Sastra  

Oktober (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Oktober PILIHANRAKYAT.ID, Senyumanmu, mekar tepat ketika hujan jatuh pertama, aroma tanah mendebar dada, kau memejam mata, merangkai jarak retak, menampung kenangan, dalam redup pandang, di kelopak usia. Senyumanmu, kembali lembab…

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.