Oktober (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Hujan di Bulan Oktober (foto: ist)
Hujan di Bulan Oktober (foto: ist)

Oktober

PILIHANRAKYAT.ID, Senyumanmu, mekar tepat ketika hujan jatuh pertama, aroma tanah mendebar dada, kau memejam mata, merangkai jarak retak, menampung kenangan, dalam redup pandang, di kelopak usia.

Senyumanmu, kembali lembab setelah lama kering, terserang kemarau panjang, kau hanya mengadu kedua daun bibir itu, agar basah dan sempat pura-pura. Tertawa memang menyedihkan, ia rasa sakit yang paling renta, purba serta sembunyi.

Senyumanmu, senyumanku, menyatu dalam khayal, terjebak hasrat menggebu, tanpa arah tanpa waktu, tanpa sempat kita ikat.

Baca juga  Sisi Sunyi Minggu

Suatu oktober, setelah September, sebelum usai.

Puisi 4

1). Suara gitar yang dipetik dari pohon ara, belum sempat matang, lalu busuk masa mudanya, hanya membual dan berisik

2). Sebentar lagi hujan pulang, mengguyur kenangan, petikan nyanyian burung, bersahutan dengan rintik riang

3). Yang menetap ialah debu separuh basah, bakal Bunga sergap memeluk tangkai, dan kita takut keluar rumah, sebab ajal kian menyambar

4). Tik.tik.tik.jreng.jreng.jreng, di luar kepala, sunyi isinya

Surup

Surup senja dihisap fajar

Surut ombak ditarik pasang gelombang

Baca juga  Sajak-sajak Kamil Dayasawa*

Kau hilang

Namun

Ada yang lain

Menepi di bibirmu

Pahit terucap

Kecup kau rasa

Bukan aku

Masih ada sisa pantai

Yang terhampar semalam

Laut lepas tiada berlayar

Ayat-ayat pendek

-Kemiskinan memang begitu akrab, gajiku tidak seberapa, hanya cukup menutup hutang saja

-Peluh ditukar uang, lalu kau beri pada orang

-di dapur yang kosong, panci kesepian, wajan menganggur, tiada suara, tiada cahaya api, hanya jeritan perut yang setia.

Lahir tidak membawa apa, hidup tidak dapat apa, mati tidak memperoleh apa

WC

Air

Gayung

Bak

Puntung rokok

Gantungan

Kran

Kloset

Tisu

Pesing

Puisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *