Oktober
PILIHANRAKYAT.ID, Senyumanmu, mekar tepat ketika hujan jatuh pertama, aroma tanah mendebar dada, kau memejam mata, merangkai jarak retak, menampung kenangan, dalam redup pandang, di kelopak usia.
Senyumanmu, kembali lembab setelah lama kering, terserang kemarau panjang, kau hanya mengadu kedua daun bibir itu, agar basah dan sempat pura-pura. Tertawa memang menyedihkan, ia rasa sakit yang paling renta, purba serta sembunyi.
Senyumanmu, senyumanku, menyatu dalam khayal, terjebak hasrat menggebu, tanpa arah tanpa waktu, tanpa sempat kita ikat.
Suatu oktober, setelah September, sebelum usai.
Puisi 4
1). Suara gitar yang dipetik dari pohon ara, belum sempat matang, lalu busuk masa mudanya, hanya membual dan berisik
2). Sebentar lagi hujan pulang, mengguyur kenangan, petikan nyanyian burung, bersahutan dengan rintik riang
3). Yang menetap ialah debu separuh basah, bakal Bunga sergap memeluk tangkai, dan kita takut keluar rumah, sebab ajal kian menyambar
4). Tik.tik.tik.jreng.jreng.jreng, di luar kepala, sunyi isinya
Surup
Surup senja dihisap fajar
Surut ombak ditarik pasang gelombang
Kau hilang
Namun
Ada yang lain
Menepi di bibirmu
Pahit terucap
Kecup kau rasa
Bukan aku
Masih ada sisa pantai
Yang terhampar semalam
Laut lepas tiada berlayar
Ayat-ayat pendek
-Kemiskinan memang begitu akrab, gajiku tidak seberapa, hanya cukup menutup hutang saja
-Peluh ditukar uang, lalu kau beri pada orang
-di dapur yang kosong, panci kesepian, wajan menganggur, tiada suara, tiada cahaya api, hanya jeritan perut yang setia.
Lahir tidak membawa apa, hidup tidak dapat apa, mati tidak memperoleh apa
WC
Air
Gayung
Bak
Puntung rokok
Gantungan
Kran
Kloset
Tisu
Pesing
Puisi




