Gejayan Memanggil: Kembalinya Parlemen Jalanan Mahasiswa Jogja yang Mengganjal

- Advertisement -

PILIHANRAKYAT.ID, Yogyakarta- Yogyakarta merupakan salah satu kota pelajar terbesar di Indonesia, tercatat lebih dari 200 lebih perguruan tinggi serta ribuan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. Kota yang juga dikenal sebagai surganya buku ini menjadi daya tarik tersendiri, sehingga banyak melahirkan tokoh intelektual terkenal. Karena faktor intelektual yang dianggap mumpuni, tak jarang mahasiswanya terjun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi dan mengkritik pemerintah.

Pergerakan mahasiswa yang menyejarah ini turun temurun dituturkan dan menjadi semangat generasi selanjutnya, sehingga Jogja merupakan kota yang tidak pernah absen untuk mengadakan aksi jalanan.

Peristiwa yang lekat diingatan ialah masa reformasi 1998, gejolak mengkritik rezim Soeharto bukan hanya terjadi di Jakarta saja, Yogyakarta ikut memanas yang dikenal dengan “Gejayan Kelabu” pada 8 Maret 1998. Peristiwa tersebut merupakan aksi gabungan mahasiswa yang belajar disana, diantaranya UGM, IAIN (UIN), IKIP (UNY), Atma Jaya dan Sanata Dharma.

Kejadian tersebut berlangsung ricuh dan mencekam, tercatat banyak demonstran yang luka dan satu orang meninggal, bernama Moses Gatutkaca, mahasiswa MIPA Sanata Dharma. Gejayan Kelabupun terus diingat sebagai bentuk solidaritas mahasiswa dalam melawan rezim yang otoriter.

Sekarang, tanggal 23 September 2019, Mahasiswa Jogja kembali mengadakan aksi gabungan yang bernama “Aliansi Rakyat Bergerak” yang terdiri dari mahasiswa UGM, UIN, UNY, UPN, UAD, UII, APMD, Sanata Dharma, Atmajaya, Janabadra, UMY, Mercubuana, UNISA, Amikom, UST, PGRI dan lain sebagainya.

Aksi dimulai pada pukul 13:00 dengan long march dari tiga titik awal pemberangkatan (UGM, UIN dan Sanata Dharma) menuju simpang tiga Jalan Affandi yang disebut kawasan Gejayan. Sebelum acara aksi dimulai, pihak panitia aksi mengingatkan bahwa aksi ini murni gerakan rakyat dan tidak ditunggangi oleh pihak manapun.

Kemudian aksi berjalan lancar, tanpa kendala apapun, tampak barisan depan sangat kondusif, dan massa aksi sangat bersemangat, namun sebagian lagi justru santai dan tidak terorganisir dengan rapi. Massa aksi yang tergabung dari hampir seluruh mahasiswa jogja itu mencapai lebih dari 1000 orang.

Baca juga  Menteri Susi: Tanpa Data, Tidak Ada Tata Kelola Negara

Setiap universitas yang tergabung dalam massa aksi berkesempatan untuk menyampaikan orasi politiknya, satu orator mewakilkan gagasan dan keresahan dari mahasiswa atas rezim Jokowi. Selain itu juga ada perwakilan Dosen UGM yang ikut mendukung gerakan tersebut dan juga bergabung dengan Feminis (kelompok pejuang hak perempuan). Kemudian di tengah aksi juga ada penampilan dari Band Sisir Tanah yang membuat massa aksi semakin bersemangat.

Baca juga  Kans Besar Gus AMI didukung Generasi Z

Kemudian pada 16:30 aksi itu ditutup dengan pernyataan sikap demonstran dengan beberapa tuntutan.
Dalam rilis Aliansi Rakyat Bergerak terdapat sejumlah tuntutan, sebagai berikut:

  1. Mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP.
  2. Mendesak pemerintah dan DPR untuk merevisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
  3. Menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia.
  4. Menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja.
  5. Menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk penghianatan terhadap semangat reforma agraria.
  6. Mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.
  7. Mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Aksi itu memang berjalan normal dan lancar, namun ada sedikit yang menggganjal dan patut untuk dipertanyakan. Dana aksi, dilansir dari Tempo.co, aksi tersebut menggalang dana melalui donasi publik yang tercantum dalam web kitabisa.com, dana yang terkumpul mencapai Rp 22.459. 146 dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Pengorganisasian massa besar dalam waktu yang singkat, meski yang ditunjuk sebagai koordinator lapangan rata-rata merupakan Badan Eksekutif mahasiswa (BEM), namun terasa aneh, soalnya pada aksi aksi sebelumnya, sulit mahasiswa turun ke jalan, apalagi sampai jumlah besar. Sebagai perbandingan kasus NYIA Kulon Progo, meski banyak mahasiswa yang terlibat dalam konflik pembebasan lahan, tetapi butuh waktu lama untuk menarik massa.

Baca juga  Setahun Revolusi Mental: Mental Jokowi Dalam Ujian Ahmad Dhani

Untuk aksi ini rasanya aneh ketika mahasiswa cepat berkumpul dengan permasalahan yang juga urgent. Dan butuh waktu untuk membedah satu persatu masalah. Dan aksi sudah dipersiapkan dengan matang (sebagian kelompok) baru setelah itu menarik massa yang lain, pembacaan dan teklap yang hanya satu malam tidak mungkin bisa merumuskan sesuatu yang sangat rumit, yaitu undang-undang negara.

Apalagi press release yang diterbitkan mendekati ilmiah dengan sumber referensi beragam, namun sekali lagi yang saya ketahui pembacaan dan teklap besar hanya terjadi satu kali, yaitu tepat satu malam sebelum aksi berlangsung.

Tidak sinkronnya orator dengan tuntutan dalam press release, banyak orator yang malah curhat tentang kehidupannya, atau mengkritik tanpa dilandaskan bukti jelas, hanya asumtif, padahal kalau dilihat permasalahannya dalam press release sangat bagus, namun orator tidak bisa menyampaikan gagasan yang dibawa, ini semakin menguatkan bahwa yang ikut aksipun belum tentu paham apa yang ia perjuangkan, hanya segelintir orang, mungkin hanya panitia.

Baca juga  Ratna Sarumpaet Tahanan Terakhir Orde Baru, Haruskah Ia Berakhir di Penjara?

Saya tidak mau menuduh ada kepentingan politik praktis, tetapi sebagai mahasiswa seharusnya sadar, bahwa setiap gerakan mahasiswa akan berdampak pada kebijakan politik, kalau seumpama mahasiswa dalam penyampaian orasinya saja tidak mampu menjadi penyambung lidah rakyat, terus bagaimana ia berjuang.

Bagi saya sendiri aksi tersebut tak lebih dari ceramah dan curhat ala mahasiswa, tidak ada nalar kritis dalam orasi, apakah mahasiswa sudah tidak bisa diandalkan intelektualnya atau memang ia tidak intelektualis sama sekali. (Hamzah/PR.ID)

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Kementrian ESDM Mengeluarkan Peta Rawan Bencana Gunung Semeru

PILIHANRAKYAT.ID, Dalam rangka mengurangi resiko bencana geologi khususnya akibat letusan Gunung Api Semeru, Badan Geologi, cq. Pusat...

Mendagri Minta Kepri Tetap Kendalikan Pandemi

PILIHANRAKYAT.ID, Batam - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah di Provinsi Kepulauan...

Sajak-sajak Salman Al-Madury

Rukun Rindu Setalah selesai menghitung waktujarak semakin merontaMenghendaki sebuah jumpa Maka...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...