Jakarta Berpotensi Menjadi Kota Besar di Dunia, PCNU; Kemiskinan Masih Tinggi di Jakarta

Jakarta Berpotensi Menjadi Kota Besar di Dunia, PCNU; Kemiskinan Masih Tinggi di Jakarta
Acara musyawarah kerja yang diadakan oleh PCNU Kota Jakarta Utara, di Sekretariat PCNU Jakarta Utara, Kota Jakarta Utara, Minggu, 26/6. Foto:@Farhan
banner 468x60

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Jakarta setelah tidak lagi menjadi ibu kota negara akan berpotensi menjadi kota besar di dunia, yang mana akan sejajar dengan kota-kota besar di Asia dan Eropa.

Sebagai masyarakat Jakarta kita harus bergerak dan berpikir akan seperti apa Jakarta kedepan,” hal ini disampaikan oleh ketua komite kajian Jakarta. Gus Syaifuddin dalam acara musyawarah kerja yang diadakan oleh PCNU Kota Jakarta Utara, di Sekretariat PCNU Jakarta Utara, Kota Jakarta Utara, Minggu, 26/6.

Gus Syaifuddin menjelaskan banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di kota metropolitan ini, “Diantaranya ialah persoalan banjir, kemacetan, dan polusi udara yang kian hari makin mengkhawatirkan. Persoalan ini perlu kita rembuk bersama dan saling bahu membahu memecahkan permasalahan tersebut,” jelasnya.

Ia melanjutkan perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan bukan sebuah hal menyelesaikan masalah persoalan tersebut. Namun bukan juga hal yang harus disalahkan.

“Yang terpenting ialah visi kepemimpinan Kota Jakarta harus berpihak kepada rakyat, terutama anggaran APBD-nya. Karena 360 ribu kemiskinan di Jakarta, dan 136 ribunya berada digaris kemiskinan ekstrim. Ini persoalan yang tak mudah, perlu pemimpin yang gagah dan bijak untuk memecahkannya,” lanjutnya.

Ketua PCNU Jakpus itu juga menambahkan tata Kota di Jakarta perlu diperbaiki, sehingga pusat kota tidak hanya di jalan Sudirman dan Thamrin.

“Hal demikian masih terjadi hingga saat ini, banyak orang-orang dari pinggiran Jakarta berbondong-bondong datang berbarengan di waktu bersamaan untuk masuk kerja dan aktifitas lainnya. Jika dibiarkan kemacetan tidak akan bisa dihindari. Karena hal tersebut perlu dibuat pusat-pusat bisnis di luar jalan itu,” tambahnya.

Gus Syaifuddin meneruskan hal-hal tersebut bisa berhasil jika kita mau bergandengan tangan dengan pemerintah daerah di daerah penyangga Jakarta.

“Ini adalah kunci utamanya, kita harus sudah mulai koordinasi dengan DPRD, Walikota, dan tokoh masyarakat baik yang di Jakarta ataupun dengan daerah penyangga Jakarta. Ini penting dilakukan, karena mereka juga penentu kebijakan yang perlu diajak bicara,” ujarnya. (Farhan Maksudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *