Bisik-Bisik Cinta di Jendela #4

Kontributor: Selendang Sulaiman 

Minggu, 10 Juni 2012 / 23:21
Menulis catatan ini, menulis kenangan pada yang tiada. Mengikat benang-benang ingatan pada batang cintaku yang kau patahkan rerantingnya. Daun-daun rindu berserak terhempas angin kemarau daru dadamu. Aku menjadi kehampaan musim yang ditinggalkan burung-burung dan resah enggan membuat sarang dijantungku. Aku lemah sungguh tak berdaya. Hanya catatan ini yang bisa membuat ketegaran dalam langkahku.

Selain pada yang tiada. Kepada apa dan siapa tulisan ini aku khususkan. Kepada cinta hanya kian meruncingkan duri nyeri yang menusuk-nusuk kulit dalam diriku. Kepergianmu sudahlah benar. Tak perlu ladi ada tangis sesal. Resauku cukup aku tuntaskan menjadi paragraf-paragraf luka yang indah. Sebagaimana bangunan cintaku-cintamu yang menjulang dari reruntuhan musim duka. Kita pernah membuat taman dengan kolam kecil yang kita isi dengan ikan-ikan yang bersisik waktu penghitung usia kita bercinta. Impian kita sudah kita alirkan pada setiap doa mengalir dari bibir dan tadah jemari. Namun, juga entahlah.

Sumber Gambar: Sketasa Mujibur Rohman
Judul “Wajah Surat Kabar”, 
via : www.facebook.com/rahmanovic.barcelonista

Kepada yang entah, kau-aku merengek, mengadu, dan kadang hanya mengantar tangis. Selebihnya kita akan mengisi waktu cinta kita dengan percakapan-percakapan tak masuk akal. Terkadang kita Cuma membanding-bandingkan kemurungan kita oleh rasa yang tak terpuaskan. Tetapi begirulah adanya. Cinta kita memang tidak tepat waktu namun tidak kurang suatu apa. Walaupun kepuasan cintaku terbatas pada bait-bait puisi resah dan cerita-cerita indah dari masa silam. Bukankah kau mencintaiku karena cintaku padamu.

“Usia cinta kita sudah menua, sayang!” Igau-igauku senantiasa pecah setiap anak-anak kenangan menjerit ketakutan di ujung malam yang kau tinggakan. Sementara aku hanya bisa berkisah padanya tentang nestapa dari nisan-nisan tua di tanah cinta.

Bersama catatan ini aku telah mengisi rungga dadaku yang kosong dengan butir-butir tanah merah beraroma kembang kambuka. Lalu aku menaburinya dengan benih-benih rindu yang gugur dari bunga-bunga cinta kita di tangan yang maha entah. Sebagaimana kamu, aku juga mendekat dan dan pasrah pada yang entah. Aku ingin belajar mengabadikan cinta darimu yang pergi.

Demi masa. Demi yang tiada. Catatan ini akan aku tulis terus-menerus. Meski tak bisa lagi aku bercerita di sini tentang peristiwa dan kejadian romantis dan sedih antara kita. Biarlah cerita itu selesai di bibirku dan bibirmu yang tak lagi manis. Cerita kita di masa lalu akan indah dan lucu menjadi dongeng yang akan diulang-ulang sepanjang usia cinta. Sampai anak cucu kita masing-masing mengingat mengabadikannya jadi roman paling indah di masa-masa hidup kita. Sebab kita tahu dan sama rasa bahwa cinta adalah jarak dan rindu adalah candu yang nikmat, di mana nyeri senantiasa beriring merekat di kulit batin kita.

Sebentar lagi, kau tak akan lagi terlelap di lenganku dan pelukanku akan menjelma nyeri dalam resah tidurmu. Sementara cinta dan kenangan akan terus tumbuh subur bersama waktu yang jarumnya tidak akan pernah patah lagi. Kau sunggu sangat tahu itu. Bukankah aku selalu bicara padamu tentang apa saha untuk mempererat ikatan-ikatan di sudut-sudut bangunan percintaan kita. Bukan dengan pertemuan bukan pula dengan percumbuan yang nakal. Doa pun entah. Tetapi, sebab cinta itu ada.

“tapi aku tahu kau hanya sekedar mengusir sepi
sebentar lagi kau akan bangkit, merapatkan jaket,
dan pergi.

tentangmu mungkin tak ada yang memihakku,
hanya catatanku yang panjang melahirkan sajakku
yang perih dan dungu”

(Aslan Abidin, “Sajak Kecil Buat M (3)”)

Senin, 11 Juni 2012 / 05:37

Dua bait puisi Aslan Abidin dalam Antologi Puisi “Bahaya Laten Malam Pengantin”, membuat dadaku redam tenggelam dalam dasar sungai yang dingin dan segar. Aku ingat sewaktu dulu cinta kita masih bernama jarak dan belum terlepasdari masa-masaduka masing-masing, aku kaku berjalan bersama cinta kepadamu. Puisi itu kian menajamkan ingatan pada yang telah terlipat dalam kertas-kertas di lemari.

Puisiku yang sudah tunai dibangun atas nama cintaku padamu. Puisi hadir demi keyakinanku pada cintamu. Puisi terbang bersama sayapcinta kita yang cacat. Dan kini, puisi menjelma nyanyian luka dan bahkan iramanya terlampa sendu semacam tiupan kematian yang tegang dan menakutkan. Sunggu aku merasa bahwa kematian kian mendekat.

Bersambung…. Baca selanjutnya #5

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *