(Tan Hamzah)
PILIHANRAKYAT.DI, Bumi Manusia merupakan salah satu karya agung dari Pramoedya Ananta Toer. Buku ini menyajikan alur sejarah yang panjang, kronik pergerakan modernitas Indonesia dan drama kebudayaan (Jawa & Kolonial). Bumi Manusia adalah representasi sederhana dari perjalanan hidup Minke, dalam menghadapi keresahannya sebagai seorang terpelajar. Minke yang menjadi tokoh utama dalam buku ini, juga jelmaan dari tokoh nyata (Tirto Adhi Surjo), Bapak Pers Indonesia.
Bumi manusia, sebuah novel yang kompleks dengan menyimpan sisi kemanusiaan yang luar biasa. Polemik penjajahan kolonial dan tradisi feodalisme jawa, sangat erat kaitannya dengan sejarah Indonesia abad 19. Ada beberapa poin dalam buku tersebut yang baik bagi kita untuk bedah.
Pendidikan: Minke seorang siswa H.B.S (Hogere Burger School). Ia mendapat pendidikan yang cukup pada waktu itu karena ia seorang anak bupati, mengingat kaum pribumi saat itu yang minim pendidikan, kaum pribumi biasa sebenarnya bisa sekolah di SR (sekolah rakyat) namun masalah ekonomi yang berbelit, dan penjajahan kolonial yang kejam, pribumi tiada sanggup lagi untuk belajar baca tulis, mereka lebih suka bekerja di ladang. Keresahan yang muncul di benak Minke terhadap pendidikan pribumi dituangkan dalam dialognya “Seorang Terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam fikiran, apalagi dalam perbuatan” (Jean Marais).
Pendidikan belanda saat itu, orientasi lulusannya untuk menjadi pekerja (administrator perkebunan) sehingga minke merasa tidak dapat melakukan perubahan dengan intelektualnya, Ia tetap menjadi budak penguasa, dengan pengetahuan yang Ia miliki. Sedangkan untuk pribumi?
Gender: salah satu tokoh yang menguatkan minke dalam novel ini yaitu Nyai Ontosoroh, seorang gundik Belanda (Herman Mellema), seorang wanita terpelajar ini mampu memberikan kontribusi pemikiran kesetaraan sosial, contoh dikala orang pribumi tidak bisa tulis menulis (Aksara latin), Nyai Ontosoroh membuktikan bahwa ia bisa melakukan itu, ini karena dukungan sang suami Herman Mellema.
“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai” sosoknya yang mandiri terbukti ketika ia mampu mengurus administrasi peternakan suaminya dibantu oleh anak perempuannya yang bernama Annelis Mellema.
Feodalisme dan Kolonialisme: mengambil latar belakang kehidupan Jawa akhir abad 19, minke seorang anak bupati terpelajar merasa tersinggung ketika ia harus menghadap ayahnya dengan cara merangkak, ia merasa semua yang ia pelajari menjadi tiada berguna, hanya sebuah jabatan dan kekuasaan. “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”. Raja jawa pada masa itu sering dijadikan alat tunggangan bagi colonial untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia, contohnya ketika pembanguna jalan Anyer-Penarukan
Romantisme: selain mengenai konflik penindasan, Pram juga melahirkan adegan kisah cinta antara Minke dan Annnelis. Kisah cinta mereka berbeda dengan cerita cinta yang lain, karena keduanya lebih membahas masalah konflik sosial, meskipun ada beberapa cerita vulgar didalmnya. “Kenangkan kebahagiaan saja ya, mas, jangan yang lain,” Annelis.
“Cinta itu indah Minke juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya,” (Jean Marais). Annelis kemudian menikah dengan minke namun kisahnya tragis ia harus rela berpisah dan meninggalkan hindia.
Selain beberapa topik diatas sebenarnya masih sangat banyak yang perlu dibahas, seperti pendidikan guru liberal (Magda Peters), Keluarga De La Croix, Mantan Serdadu Aceh (Jean Marais), dan lainnya.
Tan Hamzah (Pekerja Tulisan Lepas)




