PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Cina merupakan momen terpenting dalam kebudayaan Tionghoa. Perayaan ini didasarkan pada kalender lunar dan jatuh antara 21 Januari hingga 20 Februari, bertepatan dengan fase bulan baru pertama dalam penanggalan tersebut. Di Tiongkok, perayaan ini juga dikenal sebagai Festival Musim Semi.
Sejumlah literatur sejarah menyebutkan, tradisi Imlek telah berlangsung sejak era Dinasti Shang sekitar abad ke-16 sebelum masehi. Kala itu, masyarakat agraris Tiongkok menggelar upacara persembahan kepada dewa dan leluhur sebagai ungkapan syukur atas panen sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya. Ritual pergantian tahun menjadi bagian penting dalam sistem sosial dan kepercayaan masyarakat saat itu.
Istilah “nian” yang berarti tahun mulai dikenal pada masa Dinasti Zhou. Dari istilah inilah muncul legenda tentang makhluk buas bernama Nian yang konon datang setiap akhir tahun untuk mengganggu penduduk desa. Cerita rakyat tersebut menyebutkan, Nian takut pada warna merah, cahaya terang, dan suara keras. Tradisi memasang hiasan merah serta menyalakan petasan diyakini berakar dari kisah tersebut.
Memasuki masa Dinasti Han (202 SM–220 M), penetapan hari pertama bulan pertama kalender lunar sebagai awal tahun baru mulai dibakukan. Sejak periode itu, perayaan tahun baru tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai perayaan sosial yang melibatkan keluarga besar.
Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari dan ditutup dengan Festival Lampion atau Cap Go Meh. Selama periode tersebut, keluarga biasanya menggelar makan malam reuni pada malam pergantian tahun, membagikan angpao kepada anak-anak, serta menampilkan pertunjukan barongsai dan tari naga sebagai simbol keberuntungan dan kekuatan.
Di Indonesia, perayaan Imlek memiliki dinamika sejarah tersendiri. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa sempat dibatasi. Perubahan terjadi setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut pada tahun 2000. Dua tahun kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.
Kini, Imlek tidak hanya dirayakan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Lebih dari sekadar pergantian tahun, Imlek dimaknai sebagai momentum mempererat ikatan keluarga, menghormati leluhur, serta menumbuhkan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.




