News  

Isu Muktamar PBNU Menguat, Tulisan Kiai Jatim Dorong Gus Kikin Jadi Ketum

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Wacana suksesi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang rencana pelaksanaan muktamar. Sejumlah pandangan dari kalangan kiai dan tokoh NU bermunculan, termasuk dorongan agar kepemimpinan organisasi dikembalikan kepada figur dari dzurriyah pendiri NU.

Pandangan itu disampaikan KH Mustofa Qutbi Badri, Mudir Idaroh Wustho JATMAN Jawa Timur masa khidmat 2023–2028, melalui tulisan bertajuk Ketum PBNU ke Depan, Mencari Isyarah Langit, tertanggal Jumat, 24 April 2026, di Kraksaan.

Dalam tulisannya, Mustofa menyinggung dinamika yang sempat terjadi di tubuh PBNU beberapa waktu terakhir. Menurut dia, gejolak internal yang kemudian berujung pada islah dan dorongan percepatan muktamar merupakan bagian dari dinamika organisasi besar seperti NU.

Baca juga  Harapan JK di HUT RI ke-74, Jusuf Kalla; Indonesia Bisa Baik dan Maju Kedepannya

Ia menyebut pemilihan ketua umum PBNU ke depan tidak cukup dilakukan dengan ikhtiar lahiriah melalui musyawarah semata, tetapi juga ikhtiar batiniah melalui doa dan istikharah. Menurut dia, langkah itu penting agar organisasi memperoleh pemimpin yang membawa kemaslahatan.

Mustofa kemudian mengutip sejumlah rujukan keagamaan tentang istikharah, termasuk pandangan ulama klasik. Dari hasil perenungan dan musyawarah yang ia lakukan, ia menilai kepemimpinan PBNU selanjutnya layak diarahkan kepada KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Gus Kikin saat ini diketahui menjabat Ketua PWNU Jawa Timur dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Ia juga merupakan cicit pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari. Menurut Mustofa, figur tersebut dinilai memiliki karakter santun, cakap, tidak ambisius, serta dekat dengan tradisi kepemimpinan ulama pendahulu.

Baca juga  Ukhuwah Jadi Jantung Gerak NU di Jawa Timur

“Untuk Ketum PBNU ke depan, Gus Kikin insyaallah adalah pilihan yang tepat,” tulis Mustofa dalam pernyataannya.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari PBNU mengenai jadwal muktamar maupun mekanisme pemilihan ketua umum baru. Namun, sejumlah aspirasi dari daerah mulai bermunculan seiring menguatnya pembicaraan soal arah kepemimpinan organisasi ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *