Cerpen  

Maya Bunda Yana

Cerpen: Baron van Warno

Oktaviana Maya Dewi, namamu masih melekat di dinding ruang ingatan, utuh. Sebagaimana waktu dulu, ketika kau masih menjadi Mahasiswi dan aktif di pergerakan.

Jika aku mampu mengulang peristiwa masa lalu kerena aku calon sejarawan. Aku yakin, kau akan lebih mampu mengkatalogkan nama-nama sahabat, teman, dan buku-buku harinmu, dan semoga namaku termasuk di dalamnya.

Namun, sepertinya ada yang janggal pada diriku. Tidak sebagaimana mestinya, ingatanku berjalan pelan merekam sejarah-sejarah penting dunia ketika dosen memberikan kuliah sejarah di kelas. Namun tidak dengan nama dan peristiwa tentang darimu, sungguh masih terang benderang dalam ingatanku.

Sketsa Mujiburrahman – Desert dancer. Oil on wall 3×3

Maya, dengan sepenggal namamu yang sempat menjadi judul dari puisi-puisi yang kucipta. Aku tak dapat mengelak, aku pernah mememdam rasa padamu. Entah sekarang, entah hari esok. Barang tentu, setiap aku melihat sosok perempuan imut, manja tapi dewasa, yang tanpak di mata adalah keimutan dirimu. Apakah dan kenapa, jawabnya adalah kejujuran perasaan dan hati. Namun aku pikir hal itu cukup menjadi sejarah sunyiku saja. Sebab sekarang kau telah sah dan sepenuhnya dimiliki oleh mantan pacarmu dan juga masih sebagai sahabatku.

Maya… Maya, rupanya kau masih imut seperti dulu, sejak kau masih mahasiswi, tawamu masih kelihatan dan terdengar mungil sekali. Sumpah, aku masih merasa gemez meskipun kau telah beranak dua. Tentunya rumah tanggamu baik-baik saja, kan?. Tidak seperti diriku yang sampai sekarang masih terlunta-lunta mencari jalan hidup, aku belum juga punyak identitas, may! Sebagaimana impianku dulu yang aku katakan padamu, saat kau cerita tentang masa depanmu, bahwa dirimu sebagai anak tertua dari kedua adik-adik perempuanmu, kau yang akan menjadi tulang punggung orang tuamu, aku bangga mendengarnya. Dulu aku hanya berpikir, jika kelak aku menjadi bagian dari keluargamu, menjadi kakak dari adik-adikmu dan dinobatkan sebagai bapak dari anak-anakmu sekarang.

Akupun masih tidak sepenuhnya mengerti akan diriku sendiri, May!. Aku masih sebagaimana enam tahun yang lalu, seperti yang kau tahu. Oh iya, May! Kita juga sejarah yang cukup indah ya, aku yankin kau masih mengingatnya, itupun jikalau kau masih menyimpan foto-foto kita di pantai Parangtritis itu. Malam itu, kita foto-foto bersama, makan dan minum bersama di warung dekat pantai. Suasana menjadi tambah indah saat langit meneteskan rintik-rintik rinai hujannya, kau begitu bargairah menikamati manik-manik rinai waktu itu, aku tahu kau sangat suka berbasah kuyup di tengah hujan. Meski tubuhku sensetif pada air hujan, tapi demi kamu aku menemanimu sampai malam benar-benar larut.

Sejak saat itulah aku mencoba memahami dirimu. Hidupmu diantara mereka, lelaki yang dekat dan kau akrabi. Jujur aku kerap cemburu bila kau berdekataan dengan teman-temanmu, meski aku tahu mereka hanya dan tidak lain teman-teman akrabmu. Namun apalah daya jika apa yang aku rasa adalah perasaan yang tumbuh tiba-tiba setelah hidupku hancur ditinggal kekasih di Madura. Sampai-sampai aku tak mengenali siapa diriku.

Bila aku terkenang kembali ke masa indah itu, serasa waktu tak ingin cepat berlalu. Aku merasa nyaman dan menikmati kesibukan-kesibukan yang menuntutku untuk selalu dan selalu disiplin waktu. Akan tetapi, seperti yang aku katakan, bahwa aku adalah manusia yang tidak tahu siapa dirinya. Barangkali karena aku terlalu ego dengan perkataan orang lain yang perhatian dan simpati padaku termasuk dirimu yang selalu mengingatkanku untuk tidak lupa sholat, makan, istirahat, kuliah yang benar dan berdoa serta cuci tangan kaki sebelum tidur.

Bangga bukan kepalang punyak sahabat seperti dirimu. Perhatian dan pengertian. Ya, semua itu seperti sedesir angin melintas sekejab di kedua telingaku. Aku tak pernah menghiruakan semua perkataanmu.

Baca juga  Marsinah Belum Mati

Sekarang aku yakin, suamimu bahagia punyak istri seperhatian dan pengertian seperti dirimu. Anak-anakmu pasti bangga dilahirkan dari rahimmu. Begipula dengan adik-adikmu, pasti biaya sekolahnya kamu yang menanggung.

Maya…. Maya! Betapa malangnya nasibku. Sampai saat ini aku masih berada ditengah-tengah kampus yang semakin tak jelas ujung pangkalnya. Aku masih belum Sarjana May! Sementara dirimu telah dikaruniai dua orang anak yang itu merupakan sebuah kebahagiaan yang semua orang mendambakannya, termasuk diriku. Namun entah kenapa aku tidak pernah berusaha untuk mencapai kebahagiaan itu. Aku menyesal May! Dulu tidak pernah mengikuti segala perkataanmu. Maya! Andai saja dulu sebelum kau dipinang oleh sahabatku, si Munir, tentu kuungkapkan perasaanku padamu, kemudian aku merubah hidupku yang tak jelas ini, tentu yang berada disampingmu adalah aku, anak-anak itupun akan memanggilku Abah, Bapak atau Papa. Ah, tiada guna aku mengandai kira sesuatu yang tak mungkin akan terjadi dalam sejarah hidupku.

Maya! Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Orang-orang di kampung selalu menanyaiku kapan mau lulus, jadi Sarjana. Aku baru sadar, teman-teman seangkatanku telah ada yang menjadi guru di Pesantrennya tempat ia sekolah SMU-nya dulu, ada yang bekerja sebagai Asisten Dosen di Fakultasnya sendiri karena mendapat prestasi Cum Laude, ada pula yang tengah sibuk sibuknya mengerjakan tugas Tesis-nya, dan ada yang nya-Leg di kotanya, bahkan adapula yang melanjutkan kuliahnya di Belanda dengan beasiswa perestasi. Sedangkan aku May! Masih seperti dulu. Jalanku tak jelas arah tujuannya. Dibilang Mahasiswa Akademik sampai sekarang masih belum juga lulus-lulus. Mau dibilang Mahasiswa Aktivis, tidak serius aktif di pergerakan melawan tirani yang menjalar di Kampus kita itu May.

Memang, Obsesiku nulis Puisi atau Cerpen. Namun sampai saat ini aku tidak begitu total berproses. Buktinya karya-karyaku masih manjadi arsip pribadi, mungkin puisi atau cerpen yang aku tulis, merana dalam Blog-ku. Tidak jarang aku ngirim ke media-media, tapi selalu dibalas dengan bahasa permintaan maaf karena karyaku masih tidak layak ditayangkan di Korannya. Walaupun satu atau dua kali beberapa puisiku dimuat di media Koran tapi itu tidak menjadikan tolak ukur akan keberhasilankun dalam proses ini.

May, semoga kau tak bosan bila curahan ini sampai di tanganmu kemudian kau sempat membacanya. Semua ini aku tulis semata-mata karena aku Mahasiswa Sejarah. Tapi sudahlah lupakan saja.

Oktaviana maya dewi, selalu namamu May yang lahir ketika kata-kata itu hilang dari imajiku. Atau ketika aku didesak oleh beribu kata yang kuhutang dari para Penyair, Cerpenis dan Sebangsanya. Kau harus tahu May, aku terlalu banyak hutang kata pada meraka, sama kamu juga. Hutang harga diri dari diriku sendiri masih belum terlunasi apalagi pada yang lain.

Kini telah aku putuskan untuk memilih satu dari banyak pilihan yang menjerat hidupku selama ini. Aku telah sadar bahwa merasa kehilangan sesuatu dari diriku yang entah aku juga tidak tahu apakah itu. Yang pasti aku tidak tahan menerima tuntutan dari orang tua, kawan-kawan dan semua yang sekarang masih setia menemaniku. Aku hanya ingin bahagia seperti dirimu May!. Aku ingin merikkan senyum kedua Orang Tuaku sebagaimana Ayah Bundamu tersenyum atau malah menangis melihat dirimu bersanding bahagia di pelaminanan beberapa tahun yang lalu.

Dengan sangat terpaksa aku tinggalkan kuliah untuk bekerja. Ya, bekerja, apapun itu. Mungkin dengan cara begitu hidupku akan lebih bercahaya, meski tidak seterang hidupmu saat ini. Dan barangkali akan mengurangi baban hutang-hutangku. Tapi aku akan tatap setia pada proses, karena walau bagaimanapun aku masih punyak prinsip dan harus tetap pada satu komitmen. ”Teguh pada prinsip setia pada proses.”

Baca juga  Sang Panglima Aksi (Bagian I)

Satu bulan yang lalu aku diterima sebagai Klinik Servis di sebuah Perpustakaan Umum di Kotamu. Hari pertama aku masuk kerja aku dikagegetkan dengan sesosok lelaki. Aku terperangah saat temanku memberikan ucapan selamat karena aku diterima di tempat ia bekerja. Dia adalah Suamimu May, Bapak dari Anak-Anakmu. Dan ternyata yang menjadi Sekretaris di Perpustakaan itu tiada lain adalah Suamimu May!. Aku senang bukan kepalang waktu itu meski aku hanya bekerja sebagai tukang sapu, pembersih ruangan, kamar mandi dan pengantar minuman. Tapi tak apalah, aku tidak merasa harga diriku turun di hadapan Suamimu malah aku bangga bisa bersama lagi dengan seorang teman sewaktu awal masuk kuliah dulu.

Oh iya May! Tadi siang Suamimu memperkenalkan Yana, anak pertamamu. Dia digendong oleh seorang perempuan, tapi bukan dirimu. Kalau aku lihat dari pakaiannya sepertinya dia adalah Baby Siter. Dengan sedikit tidak enak aku tanya dirimu. Suamimu bilang kalau kamu sedang sakit sejak seminggu yang lalu. Dan dia juga bilang kalau anak keduamu di jaga oleh Neneknya, Ibumu.

Yana… Yana! Gelak mungilmu tidak jauh beda dengan Mamamu. ”Perkenalkan aku Sulie, sahabat dekat Mamamu sewaktu sama-sama kuliah dulu, teman papamu pula. May! Anakmu lucu dan imut sekali. Aku menatapnya seolah aku menatap dirimu. Saat aku sapa dia, seolah aku sedang bercakap ria dengan dirimu. Kegemasanku terhadap Yana seperti aku gemes karna manjamu. May! Sempat aku cemburu pada lalat yang hinggap dikening Yana sebagaimana aku cemburu padamu dihampiri teman lelakimu. Sejak pertama aku menatap mata Yana tidurku sering diilhami sesuatu yang bagiku serasa tidak mungkin akan pernah terjadi.

Sejak saat itu pula perasaanku selalu tidak enak ketika temanku, Munir, suamimu sibuk mengangkat Hand Phone kemudian dengan buru-buru melajukan mobil hitamnya dengan kencang dari parkiran. Aku hanya memaklumi jika dia selalu terburu-buru ketika ada Telphone dan dengan cepat pula melajukan mobilnya.

Namun May! Pada pagi menjelang siang tadi tidak seperti biasanya firastku buruk pada Munir. Sampai terpaksa aku pending pekerjaanku untuk istirahat sejenak sekedar minum kopi hangat dan menenangkan pikiran. Setelah beberapa menit aku lanjutkan pekerjaanku. Tinggal di ruang kerja Munir yang harus aku sapu bersih dan merapikan kertas-kertas yang berantakan di meja kerjanya.

Plakkk! Tanpa sengaja aku menjatuhkan Map biru, aku terkejut dan firasat burukku kembali menjalar dipikiranku. kertas-kertas surat, undangan dan dokumen berhamburan. Aku tulung lembar perlembar dirapikan dimasukkan ke Map-nya lagi. Aku mengelus dada, tengadah seraya berdoa’a dalam hati semoga Munir selamat dalam perjalanan.

Sebelum aku mengembalikan Map ke tempat semula, aku melihat satu kertas yang masih tergelatak di sudut ruangan. Sebelum sempat aku mengambilnya, ada teriakkan pecah diluar ruangan, aku terkejut dan sontak aku aku mendatangi sumber teriakan itu. Dan sebelum sempat aku bertanya kenapa semua karyawan pada riuh, seorang karyawan menghadang langkahku dengan nafas yang ngos-ngosan terengah-engah kemudian berkata.

“Pak Munir kecelakaan dan tak terselamatkan”.

Hatiku tersenyum. Tanpak dimataku rupamu yang lugu.

Yogyakarta, Maret 2012

Biodata Singkat Penulis 
Baron van Warno, Mahasiswa Ilmu Sosial dan Humanioran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juara III Lomba Tadarus Puisi Se UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2009. Menulis puisi dan cerpen sejak SMA. Kini tinggal di Jakarta sebagai pekerja biasa di sebuah Lembaga Peneletian. Bisa dihubungi via sms di : 081939472392

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *