Cerpen  

Pisau Ingatan Bulan April (Bagian Pertama)

Surat Cinta Didik Hariayanto

Bulan April tahun 2013 hari ke-14, aku mengingatmu menjelang hari ke-15 dimulai. Gerimis tipis tengah malam ini, aku ingat lagi padamu. Ingatan yang tak akan kunjung letih untukmu. Apa tidurmu lelap dan nyenyak malam ini adikku? Besok pagi kamu mesti sekolah setelah seharian tadi kau habiskan waktu liburmu di halaman dan di jalan-jalan sempit kampung kita sebagaimana waktu aku kanak-kanak dulu sepertimu. Semoga masa-masa kanak-kanakmu dan waktu bermainmu menyenangkan. Sehingga kau tak akan pernah mengalam perasaan sesal di masa dewasamu kelak. Sebab menyesal itu adikkku, adalah kesombongan yang bukan pada tempatnya, begitu kata seorang teman pemikir yang juga pecandu kopi.

Seharian tadi, aku tak keluar rumah sama sekali, di hari minggu yang penuh sesak oleh kesuntukan yang berlebihan. Aku bermalas ria di rumah kontrakan, tiduran, nonton tv dengan acara-acara yang cengeng, ngotak-atik hp: sms-an-, dan membolak balik lembar-lembar buku literature tugas ujian tengah semester di semester yang kesekian ini. Seperti biasa –sudah kebiasaanku- jika seharian tak melakukan sesuatu yang berarti, maka malam harinya adalah hari pembalasan untuk berbuat apapun yang dapat memberi makna pada kehidupan yang hampa dan fana.

Sketsa Mujibur Rohman, “Bayangan dalam Bayangan”

Aktivitas rutin sekaligus tanggung jawab di organisasi mahasiswa aku tunaikan di warung kopi. Lumrahnya sudah demikian di kota istimewa ini, mengerjakan tugas-tugas organisasi, tugas kuliah dan tugas pribadi, acap kali diselesaikan di warung kopi. Sebagian besar dari teman-teman karibku (sebangsa aktifis) melakukannya.

Tepar sesaat sebelum surat ini aku tulis saat gerimis tipis turun. Sambil menikmati perbincangan orang-orang malam dan secangkir kopi, aku sempatkan untuk membuat cerita padamu. Sebab waktuku akan sedikit padat sejak hari esok dan seterusnya. Kesibukan untuk kewajiban dan tanggung jawab pribadi sebagai pribadi, sebagai mahasiswa dan sebagai pengurus cadangan organisasi yang sedang mengadakan kegiatan hari ulang tahunnya organisasi itu sendiri selama seminggu dalam bulan april ini. Semua harus tunai dan rampung tanpa kelus kesah yang sia-sia.

Aku duduk dengan mereka yang absurd jiwanya dan samar mata nuraninya menatap kehidupan, mendengar percakapannya terlepas dari persoalan kehidupan yang nyata. Aku juga mendengar hati kecilnya bicara perihal masa depan, kinim dan hari-hari kemaren yang tinggal catatan kenangan tentang sekian penyesalan tak berarti. Kepalaku dipenuhi janji-janji dan harapan hampa. Hatiku dilingkupi kecemasanm kekhawatiran dan perasaan getir yang akut. Meski aku masih punya optimisme dan sisa keyakinan yang menuntun jalanku. Tak lain hanya kepadamu, semua yang kulakukan kini dan kelak tanpa tiada yang mengetahuinya.

Baca juga  Cerpen "Terakhir"

Adikku, kecemasan ini serupa hujan kecil malam ini. Biar akan terasa lama, besok pagi matahari mesti terbit kembali dengan kehangatan yang sama.

***

Selamat pagi adik manisku, semoga ketentraman senantiasa melingkupimu dan keluarga besar di rumah. Amin…! Ini adalah hari ketiga, 17 April 2013, sejak aku mengingatmu lagi.

Pagi ini,pukul 09.17 cuaca cukup cerah. Hangat matahari dapat kurasa kemurniannya. Aku seperti hidup kembali. Serupa matahari yang akan terus terbit lagi setiap pagi, aku ingin bercerita padamu setiap aktivitas yang kukerjakan beberapa hari ini dan hari-hari ke depan, sebagaimana yang telah kukabarkan padamu sebelumnya.

Betapa cukup sibuknya aku adikku, kewajiban dan tanggung jawab sebagai pribadi saling mendahului dengan kewajiban akademik dan tanggung jawab di organisasi. Aku tahu bagaimana caranya untuk menunaikan kesemuanya sesuai dengan nilai prioritas yang aku buat dengan segala resiko dan konsekwensinya. Tetapi, aku masih saja lemah dan sisa ingatan 25 januari 2013 awal tahun ini terus menerus mengacaukan konsentrasi dan emosiku.

Tetapi adikku, ketahuilah segalanya dariku. Segala peristiwa yang aku alami.

Hari senin kemarin (15-04-2013) aktivitasku penuh seharian. Malamnya tidak bisa tidur dan sekalian aku menulis surat panjang buat Dosenku. Paginya, jam tujuh aku ketiduran di depan tv. Mujur jam sembilan kemudian aku dipaksa untuk bangun. Akupun bangkit dari rasa malasku yang cukup sialan, pergi mandi dan kemudian ke kampus untuk memulai aktivitasku kembali. Jam 11 siang target pertama selesai kulakukan.

Dari kampus aku pergi ke kota baru untuk menepati janji bertemu dengan pembicara untuk salah satu agenda diskusi publik dalam rangkaian acara hari ulang tahun organisasi yang jatuh pada 17 april. Dari kota baru langsung putar arah menuju daerah maguwoharjo (dekat hotel UIN) untuk menyelesaikan kontrak kerjasana dengan salah satu penerbit yang diikutsertakan dalam acara Bazar murah yang juga termasuk rangkaian acara. Selesai bicara dengan pihak penerbitm jam di pojok atas kanan layar hp ku menunjukkan jam 12 siang pas.

Baca juga  Percakapan Senja yang Patah

Sebentar aku istirahat di ruang tunggu yang searea dengan parkir motor, aku merokok dan menghubungin panitia yang lain di kampus untuk laporan, bahwa beberapa tugasku sudah terselesaikan sebagian. Rencana awal setelah dari penerbit ingin langsung ke kampus ke lokasi acara. Tetapi sampai di tengah jalan pikiran dan perasaan mambawa laju kemudi motorku ke kontrakan. Pukul 12:30 tiba di kontrakan, tiduran sejenak sambil bercakap-cakap dengan seorang taman kenalan di dunia maya lewat handphone dan. Dan tiba-tiba nada SMS di hp yang satunya berdering. Kubuka sambil bicara dengan temanku di sebrang. Kubaca SMS itu sekalis kupamerkan padanya, “sekarang ujian jam 13:00 lt. 1.” Aku terkejut dan pelan-pelang kutenangkan diri biar tidak terlalu tegang. Kemudian aku minta pada teman di sebrang agar percakapan di hp berakhir karena aku harus pergi ujian di kampus.

Satu jam di ruangan aku menyelesaikan soal-soal ujian. Setelah itu aku lihat-lihat kemungkinan yang bisa kukerjakan. Kuperhatikan waktu, masih pukul 14:15. Aku pikir durasi waktu 45 menit bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Yam aku tak lagi berpikir panjang. Aku langsung melaju menuju kantor DPRD DIY. Kemudian ke kantor BI dan terakhir ke percetakan LkiS di jalan parangtritis Km 4,7. Aku senang melakukannya dengan penuh konsentrasi dan pengharapan yang berlebihan. Setelah itu aku pulang ke kontrakan dengan perasaan dan pikiran puas yang tak seberapa. Belum sempat mandi pula, aku masih harus ke kampus lagi untuk mempersiapkan acara di hari selanjutnya.

Hari sore menjelang tenggelamnya matahari, aku pulang dan mampir dulu di warung makan. Aku kenyang dan ngantuk. Kuambil hp dari saku celana. Kutelphone perempuan yang kukenal di fb. Dia terima. Aku bicara sebentar dengannya. Kemudian hatiku sesak dan kulepaskan di kamar.

Begitulah cerita singkatnya adikku.

Bersambung ke ….. Pisau Ingatan Bulan April (Bagian Kedua) 

 Didik Hariyanto, Mahasiswa Aktif di salah satu Kampus Negeri di Yogyakarta Angkatan 2014. Kini Aktif mengelola Komunitas Mahasiswa Peduli (KMP) sebagai anggota biasa yang masih belajar menjadi pembaca dan penulis yang baik. Sehari-hari banyak menghabiskan waktu membaca di warung kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *