Oleh: Tan Hamzah
PILIHANRAKYAT.ID-Di dusun A desa B, terdapat mitos yang telah menyebar luas, hantu noni belanda sering menampakkan diri di perempatan, jalan utama masuk dusun. Konon, dahulu di dekat perempatan itu ada rumah seorang wanita belanda, ia muda cantik dan mempunyai daya tarik sendiri, sehingga kaum lelaki di dusun A sering bergosip tentang kemolekan badan dan cantiknya paras wanita itu, bahkan ada yang membayangkan bisa tidur dengan wanita muda tersebut, meski sekali seumur hidup. Wanita itu bernama Hellena. Hellena tinggal bersama ayahnya, Jenderal pensiunan, Van Boewel. Rumah yang mereka tinggali tergolong sederhana, tetapi mempunyai kebun yang luas, setelah Van Boewel pensiun dari dunia militer ia lebih tertarik untuk merawat tanaman di halaman rumahnya, seperti bunga, sayur dan tanaman obat. Ketertarikannya akan tumbuhan itu membuat ia dekat dengan warga sekitar, dan rumahnya selalu terbuka bagi pribumi lainnya, aneh memang, karakter Van Boewel tidak seperti penjajah lain, ia menempatkan kehormatan setinggi-tingginya bagi rakyat yang menderita karena dijajah, tetapi ia hanya sebatas kasihan dan membantu seadanya dengan berbaur, tidak lebih, karena ia terikat dengan sumpah setia pada negeri dan ratunya. Tetapi Van Boewel tidak terlalu lama tinggal di dusun A, tidak sampai lima tahun, maksud hati ingin menenangkan diri di pedesaan yang tidak terlalu terpencil, tetapi ia terkena penyakit yang belum diketahui namanya, aneh ia sering merasa panas, sampai teriak tidak karuan, tetapi kata dokter ia tidak menemukan penyakit jenis apa yang diidap oleh Van Boewel, desas desus warga menyebutkan bahwa ia telah terkena santet, sampai meninggal mukanya lebam kebiruan seperti habis dikeroyok massa. Entah apa penyebabnya hingga ia dikirim ilmu ghaib jahat dari orang.
Setelah Van Boewel meninggal, Hellena hidup sendirian di rumahnya, ia memilih untuk tetap tinggal dan merawat tanaman yang telah dikoleksi oleh ayahnya, meski tinggal sebatang kara, ia hidup mandiri, dan kini ia menyulap taman depan rumahnya menjadi lahan pertanian, dan membuka lapangan pekerjaan bagi petani setempat, petani dengan tulus membantu Hellena, karena mereka masih teringat oleh almarhum ayahnya yang dekat dengan petani kecil. Karena kemahiran bertani, Hellena mulai dilirik oleh pengusaha besar, pemodal, yang mempunyai saham perusahaan besar di Hindia-Belanda. Kecantikannya tersohor, tak jarang bangsawan kaya mengimingi ingin mengawini dia dengan berbagai modus, tetapi Hellena keras hati, ia masih ingin sendiri dan belum memikirkan untuk berkeluarga.
Hellena Van Boewel, wanita kelahiran Haarlem, 14 Juni 1888, memiliki postur tubuh yang semampai, 180 cm, parasnya putih khas eropa dengan pipi kemerah-merahan. Montok dan berisi. Begitu sekilas tentang Hellena. Suatu hari ia menghampiri salah satu pekerjanya, Saman. Ia bertanya tentang hama yang menjangkiti gubis di ladangnya, mengapa gubis-gubis ini tampak layu dan daunnya rusak man?, apa pupuk kandang kurang, atau ada masalah lain. Saman menjawab dengan santai “bukan karena pupuk yang kami berikan nyonya, tapi akhir-akhir ini, ulat daun sulit diatasi, dan kami tidak tahu caranya untuk membasmi itu, bukan hanya di ladang milik nyonya saja, tetapi pertanian warga di luar sana juga mengalami nasib yang sama, hama ulat sekarang tidak bisa dihindari, sepertinya tahun ini pertanian akan anjlok, kita tidak akan menyuplai kebutuhan sayur di pasar” jawab Saman. Lantas apa yang harus kita lakukan, apa kita biarkan saja tumbuhan ini mati mengenaskan dan kita rugi, tanya Hellena. Saman hanya menggelengkan kepala, dan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian Hellena kembali dari ladang depan rumahnya, dan memilih untuk bersantai di beranda rumah, sambil menikmati Bunga oktober yang mulai bermekaran, orange seperti negeriku, tapi bukan tulip atau kincir, ini hanya bunga yang menyerupai tunas bawang, bunga oktober.
Sehabis bekerja seharian di ladang, saman pulang ke rumah, ditemani lampu teplek di dinding rumah bambunya, ia menyalakan rokok yang ia linting sendiri, bungkus jagung, tembakau dan cengkeh ia gulung, disertai kopi hangat. Betapa sepi desa ini, padahal senja baru hilang, kemana warga yang biasa kumpul di pos kamling, atau warung Mak Inah di dekat perempatan jalan, gerimis turun pelan, suasana desa semakin mencekam, betapa sepi hidup tanpa teman dan kata-kata, ucap Saman. Kemudian ia teringat Hellena, dan membayangkan kemolekan tubuhnya, mengecup bibirnya, dan bersetubuh di saat gerimis seperti saat ini, ah Hellena kau membuatku terangsang, kau juga sendirian, sekarang kau sudah gadis, udah gemulai, apakah birahimu juga tumbuh, kalau kau sedang berhasrat, kau akan lakukan dengan siapa, Saman berkhayal. Ah mengapa aku berfikir seperti ini, tetapi siapa sih pemuda yang tidak tergiur pada Hellena. Aku ingin dirinya, dia harus aku miliki, tidak terbayangkan bagaimana rasanya tidur dengannya, apalagi suasana gerimis seperti saat ini, ya akan kucoba hahaha. Malam berlarut, saman membayangkan Hellena yang cantik dan montok, sebenarnya ia berencana memperkosanya, tetapi sebatas rencana dulu.
Semenjak Van Boewel meninggal, Hellena menghabiskan malamnya dengan menulis buku harian, dan sesekali puisi. Ruang tempat kerja ayahnya yang dipenuhi arsip dan buku, menjadi tempat ia menghabiskan waktu malam, sampai ngantuk dan kembali ke kamar untuk tidur, begitu malam ia habiskan. Sepi menjadi obat baginya yang telah kehilangan. Merayakan kesendirian di dunia modern yang bising dengan letupan senjata dan penjajahan.
pagi tiba, saman sudah bangun dari tadi, bahkan mendahului terbitnya matahari, ia ingin pergi ke ladang lagi, mengecek separah apa hama menghabiskan gubis yang ia rawat bersama petani lain, berbulan-bulan ia rawat, tapi hasilnya nihil, tidak ada, tetapi Hellana tetap pemurah ia masih menyisihkan gaji bagi petani meski tahun ini gagal panen. Setibanya di ladang ia bingung mau ngapain, dan petani yang lain juga belum tampak batang hidungnya, ia duduk sendiri di pinggir ladang, dan menghadap rumah tuan Van Boewel, rencana tadi malam!! Ia teringat lagi, ketika melihat jendela kamar Hellena belum terbuka, yang berarti ia masih tidur, ini hari yang tidak biasa, Hellena biasanya bangun tepat jam setengah enam pagi, tapi ini sudah jam tujuh, mengapa ia belum bangun, kata saman. Ia menyelinap pergi ke rumah Hellena, pintu depan tampak terbuka sedikit, dan ia heran mengapa pintunya tidak terkunci, ia masuk terus ke dalam rumah, dan ia tidak menemukan hal yang mencurigakan, lagian Hellena tinggal sendirian di rumah, tetapi apa ia lupa mengunci rumah tadi malam, ia terus masuk, naik ke lantai dua, kamar Hellena berada, pintunya terbuka, saman sudah berkeringat dingin melihat suasana rumah yang seperti itu, baru kali ini ia berani masuk tanpa ijin, lagi-lagi karena ide konyol yang ada dibenaknya, memperkosa Hellena. Sampai di depan kamar, Saman terkejut, “tidak apa yang terjadi disini, Hellena, tidak mungkin secepat ini” tubuh saman gemetar, ia tidak percaya apa yang telah terjadi dengan Hellena, sudah sekian lama ia mengagumi Hellena, tetapi yang terjadi kali ini, tidak… Saman mendekat pada tubuh hellena yang telanjang bulat di atas ranjang, dan ada bercak darah di lantai, Hellena mati, lehernya biru lebam bekas dicekik. Saman mencoba tenang, meski panik, kejadian ini belum lama, ada yang janggal, kenapa Hellena dibunuh, tidak bukan hanya dibunuh, tetapi diperkosa. Saman mengecek bagian tubuh Hellena yang tidak ditutupi sehelai kainpun. Masa bodo dengan kematiannya ini kesempatan aku, Saman langsung membuka pakainnya dan menyetubuhi Hellena, ia mengecup bibir dan meremas payudaranya, sambil menyodok kemaluannya, Hellena seperti benda mati, ia kaku, tetapi saman tetap menikmati, apa yang ia impikan sudah terkabul, meski bersetubuh dengan seorang mayat. Setelah itu, saman menangis, wanita yang matanya tertutup itu kini telah pergi selamanya, saman frustasi dan ia kembali menyetubuhi mayat gadis itu berkali-kali. setelah saman puas, ia baru memikirkan bagaimana cara menutupi jejak perilaku sadisnya itu, ia bergegas menggendong tubuh Hellena yang putih telanjang dan saman juga telanjang menuju sumur belakang rumah, sambil menangis tersedu saman melempar mayat itu kedalam sumur, kau memang cantik tapi sayang bukan aku yang pertama memilikimu, tapi menjadi yang kedua tak masalah rasanya tetap sama, terima kasih, aku puas sekarang, ucap Saman. Bluurr saman ikut menenggelamkan diri dalam sumur, ia berharap akan terus bersetubuh dengan Hellena entah apapun wujud mereka setelah mati.
Sebulan setelah kejadian itu, warga dibuat gempar oleh penampakan seorang noni belanda di perempatan jalan menuju desa, warga dusun A menyebut itu hantu Hellena. Hellena sering mengganggu warga yang lewat di jalan itu, tidak heran itu merupakan jalan utama menuju desa lain, dan jalan yang digunakan untuk menuju pusat kota, tepat 10 kilo ke utara. Sehabis maghrib dan sebelum subuh tidak ada warga yang berani keluar rumah, konon katanya ia mencari seorang dukun yang sakti mandraguna, Sunarto. Sambil menangis dan berkeliling di sekitar perempatan jalan dan sesekali mendatangi rumah warga, hantu Hellena selalu memanggil nama Sunarto, warga tidak mengerti apa yang membuat hantu Hellena mencari dia.
Sunarto merupakan dukun di dusun itu, tetapi dukun yang jahil dan sering mencelakai orang, ia jarang kelihatan dan berbaur bersama warga, kerjaannya hanya semedi di hutan, dan sering ditemui oleh orang untuk mencelekai orang lain. Karena latar belakang tersebut warga jarang mau berbaur. Sunarto juga dicurigai, ialah yang mengirim aji-ajian untuk membunuh Van Boewel, karena kematian yang tidak wajar pada pensiunan Jenderal terbut, ia yang paling dicuragi, ya karena warga juga mempunyai simpati yang besar pada Van Boewel.
Hantu Hellena terus bergentayangan, sampai pada suatu malam, Sunarto kembali ke rumah, karena rumahnya berada di tengah hunian warga, kedatangannyapun mudah di ketahui, setelah Sunarto masuk ke rumah, hantu Hellena datang sambil memanggil Sunarto, ia mengetuk pintu rumah dan sambil menangis. Warga yang penasaran, ikut mengintip di celah dinding bambu rumahnya dan ada juga yang menyelinap ke pekarangan yang tidak tersentuh cahaya, mereka ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi antara dukun dan hantu tersebut.
Ya ada apa, apa yang kamu inginkan, apa belum puas pagi itu haha, sahut Sunarto dari dalam rumah. Kaulah yang membunuh ayah dan aku, aku akan balas dendam padamu, aku ingin membunuhmu, matilah sekarang juga, kau membuat hidupku menderita Sunarto, Hellena berbicara disertai tangisan yang sendu. Hantu akan selalu kalah sama dukun, kau tak perlu balas dendam, kau tak akan bisa, tapi aku harus berterimaksih berkatmu ilmu kanuraganku telah sempurna, keperawananmu itu cukup memuaskan Hellena. Aku akan membunuhmu Sunarto, aku akan membunuhmu, Hellena dengan baju putihnya tetap berada di depan pintu dan menangis, warga yang menonton dari semak-semak tampak kasihan pada keluarga Van Boewel dan mengutuk perilaku bejat Sunarto yang telah menyantet Van Boewel ditambah sekarang membunuh sekaligus memperkosa Hellena.
Sunarto membuka pintu, dan melihat hantu Hellena, rupanya kau masih cantik juga ya, meski sudah jadi hantu, mari masuk jika kau ingin merasakan kenikmatan yang sama seperti satu bulan yang lalu, kata Sunarto. Hantu Hellena langsung menyerang dengan kekuatan magis yang tidak bisa dilihat mata warga, tetapi Sunarto hanya tertawa karena serangan itu tidak mempan, Sunarto yang kesal karena telah diganggu oleh Hellena, memustuskan untuk memindahkan hantu Hellena ke tempat yang jauh dengan kekuataan gaibnya tersebut. aku akan menetralisir kamu, enyahlah dari hidupku, kau hantu dan aku manusia dunia kita berbeda. Sunarto membaca mantra sambil tangannya menyentuh kepala hantu Hellena, dan dengan sekejap hantu Hellena lenyap. Aku sudah kuat, jangan berani mencari masalah dengan aku, atau aku santet kalian semua, Sunarto menyadari apa yang tadi ia lakukan dilihat oleh tetangganya, kemudian Sunarto kembali masuk ke rumah.
Suasana malam itu senyap, tidak ada warga yang berani berucap, mereka telah menyaksikan kengerian ilmu yang dimiliki Sunarto, mereka hanya diam dan diam, tidak ada cara melawan dukun sakti itu. Dusun kembali pada aktifitas semula, tetapi rumah dan pertanian keluarga Van Boewel tidak terawat dan tidak ada warga yang mendekati pekarangan luas tersebut, karena konon katanya hantu Saman masih menjaga rumah dan pekarangan tersebut, apabila malam tiba, warga sering mendengar teriakan cabul, seperti orang sedang bersetubuh, dan itulah hantu Saman.




