Pesimis

0
Ilustrasi Pesimis (foto: ist)
Ilustrasi PesimisIlustrasi Pesimis (foto: ist)

PILIHANRAKYAT.ID, Perang panjang melanda dunia, melahirkan kecemasan, ketakutan dan trauma. Sekian milyar tahun alam tercipta, manusia lahir, dan sengketa tetap mengitarinya. Peradaban manusia purba yang kompetitif, memperebutkan tanah dan makanan. Awal terbentuknya negara bangsa, yang dideklarasikan melalui perang hebat mengantarkan manusia pada sisi suram kehidupan, Pesimis.

Pada masa kekosongan harapan tersebut, ada orang yang mengabadikan melalui tulisan dan kode berupa artefak. Peninggalan inilah yang dikemudian hari menjadi rujukan ilmuwan sejarah untuk menggali lebih dalam tentang kesunyian semesta.

Dunia modern yang kompleks, membungkus keresahan manusia, rupanya juga tidak luput dari dunia kepenulisan. Jejak manusia dalam meniti sejarah terekam dalam sebuah catatan kecil. Diantara karya fenomenal dan berarti tersebut seperti The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway, Seribu Tahun Kesunyian dan Kolera karya Gabriel Garcia Marquez, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Karya Pramoedya Ananta Toer.

Schopenhaueur seorang Psikolog klasik mengungkapkan bahwa pesimis merupakan keadaan manusia yang memandang kehidupan dari segi buruknya “Semua keadaan dalam kehidupan berakhir sebagai frustasi, tidak bahagia, ilusi, atau menyakitkan” dan keadaan seperti itulah yang dirasakan ketika perang melanda dunia. Betapa banyak tentara Nazi yang gila di medan perang, tentara Uni Soviet, tentara Amerika dan lain sebagainya. Ditambah lagi penduduk jajahan yang trauma akan suara bising dan ledakan, dunia membutuhkan waktu yang lama untuk keluar dari kecemasan dan ketakutan kolektif.

Ernest Hemingway mengambil latar belakang laut Meksiko sebagai kritik dan penggambaran manusia di masa perang dunia II. Melalui novel sastra yang sarat sejarah, The Old Man and The Sea (Lelaki Tua dan laut), Hemingway menjelaskan bahwa di sudut perairan amerika, terdapat seorang nelayan tua yang hidup sendiri, dia tidak punya keluarga hanya teman kecil yang selalu menemaninya, dalam jangka waktu yang cukup lama ia tidak bisa menangkap ikan di laut, mungkin keberuntungan sedang tidak bersamanya. Tetapi ia gigih, setiap tengah malam selalu memperbarui mimpinya untuk menangkap ikan di laut lepas yang dalam dan bahaya. Hingga suatu hari setelah beberapa bulan ia mendapat ikan yang sangat besar, sampai perahu yang di tumpanginya tidak muat, karena begitu besar ikan tersebut. yang menarik dalam novel tersebut bukanlah cara mendapatkan ikan, tetapi proses panjang menghadapi kesunyian laut dan menanti berakhirnya perang. Seorang kakek tua bahkan tidak punya sesuatu untuk di makan, karena ekonomi lumpuh, dan ikan tak kunjung datang. Ia terus bertahan dalam kecemasan itu, dan diolok oleh nelayan lainnya. Tapi ia berhasil keluar sebagai pemenang, dia menang menghadapi kesunyian laut dan ketakutan akibat perang.

Baca juga  Fatwa MUI Dianggap Terburu-Buru; Begini Tanggapan Presiden Mahasiswa UIN Yogyakarta

Seribu Tahun Kesunyian Marquez, menggambarkan suatu penduduk yang belum tersentuh dunia modern, hidup mereka masih primitif dan percaya pada mitos-mitos. Hingga akhirnya seorang bajak laut mampir dan menukar kebutuhan hidup mereka (barter). Para bajak laut memberi mereka barang modern seperti kompas, kaca teropong, dan lain sebagainya dan mereka menukar buah serta hasil alam lain sebagai gantinya. Novel ini menjelaskan awal mula terjadi kolonialisasi, masyarakat yang belum tersentuh dunia modern yang ilmiah dianggap bangsa yang terbelakang dan tidak mempunyai peradaban. Padahal dalam kisah itu, pulau yang dihuni meskipun primitif mampu menjawab tantangan alam yang ada, mereka mampu menemukan ramuan untuk mengobati berbagai macam penyakit, sehingga penduduk bisa hidup bertahan lama. Ketika modern datang, yang terjadi pada mereka ialah saling berseteru dan memperebutkan benda dari bajak laut tersebut, keadaan yang sebelumnya damai, menjadi saling tuding dan membunuh. Di dunia itu kecemasan dan ketakutan melanda banyak orang sebab benda modern dan kolonialisme

Baca juga  Sang Panglima Aksi (Bagian I)

Karya tulis yang terakhir ialah karangan atau Autobiograf dari Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, buku ini merupakan catatan harian Pram selama menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Buku ini dengan rinci merekam kejadian terhadap tahanan yang mayoritas tidak mengetahui kesalahannya. Karena polemik kekuasaan, dan perebutan tahta ’65. Dalam catatan itu kita bisa merasakan bagaimana tahanan politik yang sangat menderita, kata pram hiburan satu-satunya bagi mereka ialah bercerita, apapun itu, demi menjaga kewarasan berfikir. Termasuk novel Bumi Manusia, yang pada awalnya ialah cerita lisan, kemudian di bukukan oleh pram atas permintaan tapol yang lain. Bahkan pram dibuatkan kamar khusus untuk menulis dan dibebaskan dari tanggungan kerja, demi mengabadikan sebuah cerita, di pulau buru.

Dari ketiga novel tersebut, pesan dan isinya hampir sama, yakni rekam orang yang pesimis dalam menjalani hidup, tetapi nasib berkata lain, ada yang bisa keluar dari mulut kesunyian ada yang mendekam lebih lama di dalamnya. Pesimis merupakan keadaan lahiriah manusia, bisa terjadi kapan saja, tetapi pesimis yang berkepanjangan akan merusak mental dan psikologi seseorang. Dan salah satu diantara ribuan masalah yang membuat pesimis bahkan secara kolektif ialah peperangan.   (Tan Hmazah/PR.ID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here