Opini  

Gerakan Muda: Moral dan Intelektual

Gerakan Muda
Gerakan Muda (Foto: Tribun)

PILIHANRAKYAT.ID, Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan, kata Pramoedya. Perkataan tersebut, memberi pesan bahwa dalam gerakan kaum muda dalam merebut kemerdekaan dirinya yang dirampas penguasa, ia harus mempunyai dua elemen, hati dan otak. Hati berfungsi sebagai empati (Feeling) terhadap kejadian yang menimpa sosial masyarakat, sedang otak berfungsi sebagai analisis (Thinking) agar ia mengetahui sebab akibat dari peristiwa kemanusiaan. Masalah sosial yang berkembang dan terus terjadi setiap zaman, pasti mempunyai karakteristik dan ciri yang berbeda, meski kadang penyebabnya sama, sebab masalah yang terus terjadi secara kontinuitas, maka umat manusia terutama kaum muda dituntut untuk berpikir, bagaimana ia harus memecahkan masalah yang terjadi, karena itu salah satu filsuf Immanuel Kant menyuruh untuk berani berpikir sendiri “Sapare Aude”.

Gerakan pemuda di dunia telah menyebabkan munculnya revolusi sebuah negara, Revolusi China dimotori oleh pemuda (Maoisme), Revolusi Turki Muda, juga digagas oleh pemuda (Mustafa Kemal Attaturk), serta Revolusi Indonesia, dimulai oleh gerakan pemuda yang terpelajar. Indonesia memulai sebuah gerakan merebut negara melalui organisasi pelajar dan pemuda. Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) digagas oleh Mohammad Hatta di Belanda, organisasi itu di kemudian hari menjadi inspirasi bagi kaum muda di Hindia-Belanda (Indonesia) untuk membentuk suatu perkumpulan yang lebih besar dengan satu perjanjian bersama, yang dikenal dengan “Sumpah Pemuda”.

Mereka bergerak secara moral mewakili rakyat pribumi yang tertindas, dan merasa terpanggil sebagai pemuda untuk mengatasi sekian kebijakan politik kolonial yang tidak berpihak pada rakyat. Melalui gerakan yang terorganisir secara rapi, Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond dan lain sebagainya di seluruh nusantara, sedangkan gerakan intelektual, mereka salurkan pada Pers dan tulisan yang sifatnya provokatif. Sampai pada akhirnya mereka berhasil merebut negara, melalui dua instrument tersebut, Moral dan Intelektual.

Baca juga  Sastra Realisme Sosialis

Gerakan moral seperti demonstrasi memang tidak dikenal masa itu, yang ada hanya mengangkat senjata dan berjuang melawan tentara kolonial, tetapi bagi kaum intelektual mereka sibuk menyusun rancangan negara, mengkonsep ideologi negara, bahkan mempersiapan undang-undang yang akan diterapkan. Tokoh muda yang sengit memperdebatkan konsep negara diantaranya, Hatta dengan demokrasi liberal, Sjahrir dengan sosialisme, Tan Malaka dengan komunisme, dan Natsir dengan negara Islam. Namun yang paling logis untuk menyatukan semua itu ialah, Marhaenisme yang dicetuskan oleh Soekarno, Ideologi itu mencakup golongan sosialis, marxis dan agama yang diwakilkan kelompok islam. Sedangkan untuk konsep bernegara memakai republik, gagasan Tan Malaka.

Baca juga  Anya Geraldine Ikut Terseret Namanya Dalam Aksi Mahasiswa di Depan Gedung DPR RI , Apa Tuntutannya?

Perdebatan yang ideologis dan dialektis ini, menjadi warisan yang istimewa dari kalangan pemuda Indonesia pada awal perjuangan kemerdekaan. Sampai saat ini perdebatan yang sangat akademis dan logis tersebut dipandang sebagai hal yang sesuai dengan Indonesia.

Tetapi perjuangan kaum muda setelah angkatan 45’ bersifat stagnan dan cenderung untuk berdebat yang sifatnya hanya mementingkan segelintir golongan. Kekurangan ilmu pengetahuan dan kekurangan suplai bacaan merupakan salah satu masalah yangs serius bagi kaum muda. Sehingga pertanyaanya kemudian, apakah angkatan muda millennial mampu menyaingi intelektual pendiri bangsa?
Apakah ia mampu mengatasi masalah penyakit yang sulit dicegah dan diobati yang bernama hoax, karena memerangi hoax menjadi tantangan bagi kaum muda Indonesia. (Hamzah/PR.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *