Organisasi Penggerak Yang Tak Menggerakkan

- Advertisement -

Oleh Achmad Zuhri (Sekretaris PP Pergunu)

PILIHANRAKYAT.ID, Bicara soal pergerakan, alangkah baiknya Kemendikbud rezim Nadiem ini belajar dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Bagaimana tidak, kedua organisasi tersebut telah memberikan tauladan dan contoh nyata bagaimana merajut kemajuan pendidikan kita. Sejarah panjang telah membuktikan,  bahwa tidak ada suatu inisiasi perubahan akan tercapai maksud dan tujuannya tanpa komitmen yang kuat dan memegang teguh sejarah, nilai dan falsafah Indonesia.

NU dan Muhammadiyah telah membuktikan menjadi bagian penting dalam memajukan pendidikan dan tidak pernah silau pada trend kekinian yang meletakkan pendidikan sebagai komoditas komersial.

Pergerakan Nahdlatul Ulama melalui PERGUNU saja sudah tersebar ke seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke daerah 3T, PERGUNU sudah memiliki gerakan Guru Permesatu Bangsa. Belum lagi dengan Muhammadiyah yang sekolahnya sudah tersebar kepenjuru Nusantara semenjak pra kemerdekaan Indonesia. Melalui jejak yang nyata dan panjang itu, harusnya Mendikbud tidak tutup mata.

Sejak pertemuan pertama dengan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, kami sudah memberikan masukan bahwa untuk mencapai cita cita luhur pendidikan yang diharapkan oleh ‘founding fathers’ bangsa, kita harus saling mendukung dan melengkapi antara pemerintah dan masyarakat. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama.

Baca juga  Cara Menteri Kesehatan Untuk Mencegah Virus Corona

Nyatanya, respon positif kala itu hanya bagai isapan jempol belaka. Kini Mendikbud melalui program organisasi penggeraknya justru menuai polemik, tidak transparannya proses seleksi hingga banyaknya organisasi yang notabene ‘absurd’ justru dinyatakan lolos untuk mendapatkan gelontoran dana milyaran rupiah.

Hal tersebut yang membuat Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah dan LP Maarif NU mengundurkan diri dari program tersebut meski telah dinyatakan lolos. Ini menjadi preseden buruk bagi Kemdikbud, bagaimana sikap Muhammdiyah dan NU terasa menjadi tamparan keras atas pola komunikasi dan pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh Mas Menteri.

Baca juga  Pembantaian Orang Padang dan Bugis, Serta Runtuhnya Negara di Papua

Sekali lagi, kita perlu banyak belajar dan saling bergandengan tangan. Jangan semau-maunya sendiri dalam mendikte arah pendidikan kita, sebab dalam mengurus pendidikan juga perlu mengedepankan adab dan etika. Tentu Mas Nadiem bisa mengatakan bahwa proses seleksi dilakukan oleh pihak independen, tidak ada intervensi dan lainnya, tapi apakah itu bijaksana jika yang dihasilkan justru membuat rasa ketidak adilan dan ketimpangan semakin menganga?

Please, jangan gunakan kacamata kuda dalam merespon keperanan masyarakat dalam usaha memajukan pendidikan kita.

Bukankah sejak awal bahwa Bapak Presiden menyampaikan fokus pembangunan kita ialah pada penguatan sumber daya manusianya? Nampaknya mas Nadiem tidak dapat menangkap pesan itu.

Baca juga  Renungan Seputar Pilpres 2019: Kebebasan Pers Era Media Sosial

Bukan bermaksud menggurui, kami paham betul bahwa latar belakang mas Nadiem itu dalam bidang IT dan Teknologi sehingga melalui pendekatan tersebut kebijakan Kemendikbud di canangkan, tapi mohon diingat apakah seperangkat IT itu memiliki sebuah perasaan? Seperti sifat welas asih dan perasaan cinta? Tentu tidak. Disitulah bedanya menggunakan kacamata kuda yang berbentuk IT dengan sebuah rasa luhur melayani kebutuhan bangsa.

Sekali lagi Mas Menteri, yang menjadi objek kebijakan anda ialah manusia, bukan mesin atau barang dagangan. Tentu perlu mengedepankan pendekatan humanism yang memanusiakan. 

Apalagi dengan pendekatan teknologi tersebut, tentu tak mudah dalam membentuk karakter kebangsaan kita. Bagaimana mau bergerak jika hatinya tak tergerak?

Polemik ini menjadi catatan hitam dalam sejarah pendidikan kita, jangan sampai spirit organisasi penggerak justru tak menggerakkan.

Kami rasa sudah cukup kiprah Mas Nadiem dalam menahkodai Institusi yang menentukan arah kebijakan pendidikan kita, cukup sudah permainan ‘petak umpet’ dan tebak-tebakan terkait nasib puluhan juta ekosistem pendidikan kita.

Kami acungkan jempol untuk pengabdian Mas Menteri sejauh ini, namun dengan terpaksa acungan jempol kami sisipi dengan ‘Kartu Merah’. Cukup sudah..

Baca juga  GBHN Mau Dihidupkan, Suara Rakyat Akan Dimatikan
- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Dunia Seni Indonesia Berduka, Radhar Panca Dahana Meninggal

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Dunia seni Indonesia kembali dirundung kabar duka usai Radhar Panca Dahana sastrawan dan budayawan ...

Datangi PBNU, Nadiem Makarim Sampaikan Maaf Ke Kaum Nahdiyin

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sowan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hari ini....

Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB, Arus Bawah Partai Dorong Yenny Wahid Menjadi Ketum PKB

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Sejumlah kader daerah mendorong Muktamar Luar Biasa untuk mengganti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...