Oleh: Tan Hamzah
Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai sastrawan yang mengangkat tema sejarah dalam karya-karyanya. Rekam sejarah nusantara pada umumnya yang disajikan merupakan hasil dari kajian akademik yang dilakukan Pram secara otodidak. Pram memulai analisis sejarahnya dari kajian arsip berupa surat kabar atau Koran, majalah, maupun buku yang berada di perpustakaan. Selain dari kajian naskah, pram juga mengambil referensi dari oral history atau sejarah lisan. Hal ini tebukti dari kronik sejarah yang ia tulis seperti, arok-dedes dan arus balik.
Secara ideologi, Pram dekat dengan karya sastra yang bersifat Realisme Sosialis (mengedepankan nilai sosialisme yang berpihak pada rakyat), ada dua hal yang membuat ia dekat dengan ideologi tersebut. pertama Maxim Gorky, pertemuan Pram dengan karya Gorky dimulai dari penerjemahan sebuah buku yang berjudul “The Mother” yang nantinya akan menjadi “Ibunda”. Pada tahun 1958, salah satu anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) A.S.Dharta menawari Pram untuk menerjemahkan karya tersebut, kebetulan ekonomi Pram sedang tidak lancar pada waktu itu dan tinggal di gang becek dekat Rawamangun. Pram sangat kagum pada Maxim Gorky yang berpihak pada rakyat dan menentang feodalisme Soviet saat itu. disinyalir novel tersebut yang menjadi salah satu inspirasi Pram dalam menulis tetralogi pulau buruh, dengan tokoh wanitanya yang berani dan tegas, Nyai Ontosoroh. Pengaruh kedua ialah, karena Pram pernah berkunjung ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok) untuk menghadiri pemakaman mendiang Lu Xun, salah satu penulis terkenal, ia sempat memberi sambutan penting di sana, dan selepas pulang dari Tiongkok, Pram kagum dengan gerakan muda Tiongkok dan perhatian Mao Ze Tung pada konsep kebudayaan dan pendidikan, kisah ini juga dimasukkan Pram dalam tetralogi pulau buruh, yang digambarkan oleh tokoh Ang San Mei.
Realisme Sosialis tampak jelas dalam karya Pram yang berupa novel, cerpen maupun authobiograf. dalam novel, Pram menghadirkan kronik sejarah yang sangat ironis, kritis serta penuh perjuangan. Muatan sejarah yang pernah digeluti Pram berupa kebangkitan nasionalisme yang bersifat Indo-sentris. Hal ini karena kegelisahan Pram akan sejarah Nusantara yang banyak dikaburkan pada masa kolonial Belanda. Persatuan bangsa, dipecah menjadi narasi perjuangan daerah, padahal sebelum kolonial datang, Nusantara telah bersatu di bawah kerajaan, seperti kerajaan Majapahit. Melalui penelusuran sejarah juga, Pram menyimpulkan bahwa permulaan perjuangan Indonesia modern, dimulai dari awal abad 20, tepatnya ketika R.A Kartini mencetuskan sekolah pribumi, dan menjadi panutan, bahwa suatu bangsa bisa sejajar dengan bangsa yang lain, melalui ilmu pengetahuan, bukan atas status sosial, maupun kekuatan militer. Pram juga menyanggah bahwa awal kebangkitan nasional ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo pada 1908.
Sajian narasi yang Pram tuangkan melalui novel dan roman tersebut, mengajak pembaca untuk berimajinasi dan kembali mengingat masa lampau, konstruksi peristiwa yang tidak monoton dan membuang stigma bahwa sejarah itu membosankan untuk dibaca dan dikaji. Menurut kuntowijoyo sastra bukan sejarah yang otentik karena kebiasan peristiwa yang terjadi, tetapi dalam karya Pram, sejarah seperti puzzle yang menuntut pembaca untuk tidak percaya pada satu pandangan saja, tetapi berimajinasi dengan liar kemudian merangkainya dalam penelusuran bacaan yang lain. Seperti karya Umberto Eco, The Name of The Rose, atau One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez



