BNPB Catat Longsor, Banjir hingga Karhutla di Sejumlah Daerah pada Awal Juni 2026

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 1–2 Juni 2026. Memasuki awal musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat di sejumlah daerah di Pulau Sumatra. Sementara itu, banjir dan tanah longsor masih melanda beberapa wilayah di Indonesia bagian timur.

Di Sulawesi Selatan, tanah longsor terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang pada Sabtu, 30 Mei 2026. Longsor yang dipicu hujan berintensitas tinggi menimbun akses jalan menuju Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, sehingga wilayah tersebut sempat terisolasi.

Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Sidenreng Rappang, sebanyak 614 jiwa terdampak dalam kejadian tersebut. Selain itu, 221 unit rumah terdampak serta dua titik akses jalan mengalami kerusakan akibat longsoran tanah.

Hingga Senin, 1 Juni 2026, tim gabungan masih melakukan pembersihan material longsor di ruas jalan menuju Desa Leppangeng. Proses penanganan terkendala cuaca yang masih sering diguyur hujan.

Di Provinsi Gorontalo, banjir bandang yang melanda Kabupaten Gorontalo Utara dilaporkan telah surut. Namun, material kayu dan lumpur masih menutupi sejumlah permukiman warga terdampak.

Banjir yang terjadi sejak 26 Mei 2026 itu dipicu hujan lebat dan meluapnya Sungai Didingga. Sebanyak lima desa di Kecamatan Biau terdampak, yakni Desa Biau, Bualo, Omuto, Didingga, dan Luhuto. BNPB mencatat 2.817 jiwa terdampak, tiga rumah hanyut, 20 rumah rusak berat, serta 826 rumah lainnya terdampak.

Baca juga  Solidaritas Masyarakat Hargomulyo di HUT RI ke-74

Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara menetapkan status tanggap darurat banjir selama 30 hari sejak 26 Mei hingga 24 Juni 2026. BPBD bersama TNI, Polri, Tagana, relawan, dan unsur terkait terus melakukan penanganan pascabencana, termasuk mendirikan dapur umum dan menyalurkan bantuan logistik kepada warga.

Sementara itu, banjir dan longsor juga terjadi di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pada Senin, 1 Juni 2026. Hujan deras disertai luapan sungai menyebabkan banjir di Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan.

Sebanyak 20 kepala keluarga terdampak akibat peristiwa tersebut. Selain merendam 20 rumah dan satu masjid, longsor juga merusak badan jalan penghubung menuju Sei Lancang dengan tinggi longsoran sekitar lima meter dan panjang 15 meter.

Meski banjir telah surut, BPBD Kabupaten Nunukan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan ancaman satwa liar, termasuk buaya, yang kerap muncul di kawasan terdampak banjir.

Di wilayah barat Indonesia, BNPB mencatat peningkatan kejadian karhutla seiring masuknya musim kemarau. Di Kabupaten Aceh Barat, kebakaran lahan terjadi di tiga gampong yang tersebar di Kecamatan Bubon dan Johan Pahlawan dengan total luas area terbakar mencapai 13 hektare.

Baca juga  Rapat DPRD Probolinggo Soal Eksekusi Tanah Alas Pandang Berlangsung Tegang, Komisi I Tegaskan Sikap

Petugas gabungan menghadapi kendala berupa angin kencang dan asap tebal yang mempercepat penyebaran api sekaligus menghambat proses pemadaman. Hingga Senin, upaya pemadaman masih berlangsung di Kecamatan Bubon, sementara api di Kecamatan Johan Pahlawan telah berhasil dipadamkan.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah pada Senin, 1 Juni 2026. Masing-masing peristiwa menghanguskan sekitar satu hektare lahan dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan BPBD, pemadam kebakaran, TNI, dan Polri.

Sementara itu, Provinsi Riau yang menjadi salah satu daerah prioritas penanganan karhutla mencatat total luas lahan terbakar mencapai 15.031,58 hektare sejak Januari hingga 1 Juni 2026. Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) menunjukkan penambahan titik kebakaran terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Siak.

BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama masa peralihan musim. Ancaman yang perlu diwaspadai antara lain hujan ekstrem, angin kencang, puting beliung, banjir, hingga gelombang tinggi.

Selain itu, masyarakat juga diminta tetap siaga terhadap potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. BNPB mengingatkan pentingnya menyiapkan tas siaga bencana serta memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan BMKG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *