Oleh: Tan Hamzah
Kesenian Macapat merupakan salah satu bentuk puisi tradisional dalam kesusteraan Jawa, menggunakan bahasa Jawa, diciptakan oleh masyarakat tradisional, yang digolongkan ke dalam karya sastra klasik. Kesenian macapat yang ada di Bondowoso bisa dibilang unik karena memadukan kebudayaan Jawa dalam hal tembang dan sastra Madura sebagai lirik.
Unsur budaya Madura yang terkandung dalam kesenian macapat dapat dilihat dari bahasa yang digunakan yaitu bahasa Madura, karena masyarakat bondowoso mayoritas berasal dari suku Madura. Dalam perkembangannya kesenia macapat dijadikan sebagai salah satu bentuk ungkapan seni, yang pada akhirnya ikut serta dalam upacara-upacara adat, misalnya: selamatan tujuh bulan usia kehamilan, kelahiran,khitanan, perkawinan, rokat (ruwatan), dan tolak bala namun dalam perkembangannya macapat ini digunakan dalam percakapan sehari-hari karena maknanya yang sarat akan arti dan pesan moral yang baik.
Dalam penelitian ini, saya lebih menekankan tradisi macapat dilihat dari segi fungsi atau penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bondowoso. Teori fungsi berasal dari bahasa inggris “functional theory” yang berusaha secara fungsionalis melacak factor penyebab perubahan social masyarakat sampai ketidakpuasan masyarakat akan kondisi sosialnya yang secara pribadi memengaruhi kehidupan mereka. Teori ini berhasil mempersingkat perubahan social yang tingkatnya moderat, bukan memandang pada konflik social sebagai bagian kehidupan masyarakat.
Pendekatan menggunakan teori fungsi lebih dititikbertakan pada macapat ini, dalam hal kegunaan dan peran yang besar dalam pendidikan karakter masyarakat. berikut merupakan beberapa contoh macapat dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bondowoso.
- Komunikasi dengan Tuhan. Karakteristik etnis Madura salah satunya adalah islam yang sejak dini oleh orang tua pada masyarakat Madura untuk mengenal penciptanya. Seorang ibu ketika menidurkan anaknya biasanya selalu bersenandung “abhantal sahadat, asapo’ iman, apajung Allah, asandhing nabbhi”. Makna senandung tersebut demikian mantap terserap sehingga ketika si anak mulai bisa berucap dengan lancer ia akan selalu membaca dua kalimat syahadat sebelum ia merebahkan kepalanya ke bantal. Orang Madura ketika akan melakukan suatu hal yang dianggap paling berat ia akan menghentakkan kakinya ke tanah (agharja bhume) dan pandangannya tertuju ke atas sebagai tanda ia berdoa kepada allah.
- Komunikasi antar Manusia. Manusia selain makhluk social yang dalam implementasinya antara yang satu dan yang lainnya harus saling menghormati dan saling menghargai. Lingkungan masyarakat Madura sangat menghormati seseorang seperti kepada kedua orang tua, orang yang lebih tua, orang kaya juga di hormati sebab bisa diharapkan dapat membantu si miskin, demikian juga yang juga harus dihormati adalah orang yang berilmu seperti ulama dan umaro. Pepatah madura menyatakan “Bhuppa’ Bhabbu’, Ghuru ban Rato (Bapak, Ibu, Guru dan Raja). Sebagai penegas pola hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya dalam lingkungan masyarakat Madura.
- Komunikasi dalam Keluarga. Komunikasi dalam sebuah keluarga mutlak diperlukan agar hubungan antar anggotanya harmonis serta langgeng. Kepala keluarga mempunyai peran dan tanggung jawab besar dalam rangka membina dan mengayomi anggota keluarganya. Para sesepuh suku Madura selalu mengingatkan agar dalam lingkungan sebuah keluarga jangan sekali-klai. Ajhuwel aba (menjual diri), araobhi cemmer (perilaku yang memalukan keluarga). Orang tua juga mempunyai harapan agar putra-putrinya seperti: buwa anaghan (anak tertua di masa tuanya diharapkan bisa memberi teladan kepada adik-adiknya). Mandar badaa pae’ darana (semoga beruntung di kemudian hari)
- Komunikasi dengan Alam. Masyarakat suku Madura khususnya di luar perkotaan, hampir yang terlihat di alam sekitar oleh leluhur suku Madura dijadikan sebagai perumpamaan untuk membentuk karakter masyarakatnya. Matahari, bulan, bintang, gunung, angina Guntur, semuanya diapresisasi dan di kaji kemudian hasilnya dijadikan petunjuk sebagai isyarat alam terhadap kehidupan manusia. Contoh akantha bulan kaseyangan (seperti bulan kesiangan) peribahasa ini dijadikan perumpamaan kulit wanita yang kuning langsat.




