Aspal Tu Guru (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Ilustrasi (foto: ist)
Ilustrasi (foto: ist)

Aspal Tu Guru

Sudah sesak, kian rumit

Jalan yang kita paksa berhenti sejenak

Tuk mendengar khotbah

Aktivis magang: suara membludak

Banjir poster

Kata-kata tak bisa pulang

Tiada rambu pengarah

Lalu lintas menuju istana, Jakarta

Setelah itu apa?

Ada Molotov siap meledak di dada demonstran

Ada air mata yang meledek Pinokio

Aspal menjadi saksi

Saat ramah harus marah

Tetapi, setelah itu apa?

Kita kalah oleh diri kita sendiri

Gejayan, 27 September 2019

Merdeka

Papuaku

Indonesiamu

Indonesiaku

Papuamu

Tanahku

Airmu

Airku

Tanahmu

Tanah air untuk siapa?

Air mataku

Gas air matamu

Sarapanku, senapanmu!!!

Gelap kulitku, gelap matamu

Sapaku, kau balas tembakan

Sepiku, kau jinakkan hutan

Papua, papua

Baca juga  Majelis Sholawat Nariyah Perdana DPC PKB Probolinggo, Dipimpin Lora Fayyad dan Dihadiri Tokoh Ulama hingga Pimpinan DPRD

…………………………..

Yogyakarta, 30 September 2019

Parlemen Pasar

telah terjual sebuah kursi

dengan harga mahal, yang langka dan unik

kaki kursi hampir roboh

disangga penunggang dan penunjang

tak masalah asal suara tak hilang

Yogyakarta, 1 Oktober 2019

Aku

Menyisahkan sekat

Kedap-kedip

Tak bersuara

Meronta sendiri

Setiap sudut tak punya tepi

Setiap ruang tak punya batas

Ada engkau yang membuat garis

Menancapkan titik baru

Bagai noda kecil/hitam

Aku lumpuh

Sesungguhnya tiada penyangga yang tegak

Lalu bersimpuh simpul abadi

Pada nadi yang enggan berdenyut

Serapahku

Caci maki

Siapa yang tumbuh dewasa lebih awal

Dalam diri ini

Yogyakarta, 27 September 2019

Setahun Puisi

Malam hening

Menyembunyikan suara alam

Baca juga  Puzo

Ada bintang bertabur

Gemercik air masih saja sopan

Bila malam itu tiba

Mampir di tanggal kita

Seketika mencintaimu begitu dalam

dan sakit

dari jauh, suara tersendak

ku tak tahu jalan kembali, pada tahun kita bertemu

aku tidak tahu, sungguh

sebab engkau aku lupa

sudah setahun puisi ini tidak berpuasa

Magelang, 30 September 2019

 Dejavu

Sisa embun semalam

Menetes di perut tanganku

Mendesah, di akhir subuh

Menunggu matahari yang enggan bangun

Gerimis turun ragu

Api unggun hampir padam

Aku bergegas pergi

Menuju jalan yang menyimpan kenangan itu

Sepanjang jalan pulang, kita bercerita tentang segala hal

Bagaimana mungkin aku sedekat itu

Bagaimana mungkin aku kembali ke tempat ini

Mencintaimu tak pernah aku sangka

Seumpama, cerita itu terulang lagi

Magelang, 30 September 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *