Kontributor: Selendang Sulaiman
Salam sejahtera untuk kita semua, semoga hari-hari kita dipenuhi kebahagiaan hidup yang sejati. Semoga cinta senantiasa memberi makna pada hidup di dunia yang fana. Sebabnya, saya ingin menyampaikan sebuah catatan hati dan cinta kepada para pembaca yang budiman dan juga saya haturkan kepada para blogger sejati yang rajin dan konsisten. Selebihnya, catatan ini saya persembahkan kepada seluruh rakyat di seluruh belahan dunia ini. Semoga membawa berkah dan memberi manfaat yang berarti. Amin!
Sebelum sampai pada catatan inti, ingin saya sampaikan bahwa catatan ini saya tulis, demi sebuah daya dan upaya menjalani hari-hari kosong saat itu. Kepada catatan harian saya pasrahkan seluruh keluh kesah yang tak butuh pada buku harian. Dalam penyampaiannya, catatan ini akan diakhiri dengan sebuah puisi saya tulis baik di waktu yang bersamaan maupun di waktu yang berbeda, tetapi mengandung pesan dan tema yang sama. Akhirnya, selamat membaca dengan baik dan hati-hati.
Jum’at, 8 Juni 2012 / 21:00
“Mengingat kamu, Ma adalah mengingat kewajiban sehari-hari.”
Usah kuawali catatan ini dengan penggalan sebaris sajak si Burung Merak (W.S. Rendra – alm). Aku sadar dan (barangkali) kau-kalian tahu, sajak-sajak si Burung Merak senantiasa kusyairkan di panggung-panggung, di kamar, di jalanan, bahkan di meja-meja warung kopi. Begitulah, begitu kira-kira bukti cintaku pada penyair W.S Rendra.
Namun terlepas dari dunia syair, cintaku padamu melebihi segalanya. Kewajiban sehari-hariku sudah terlipat di jalan-jalanku, pada lipatan-lipatan kertas yang tersoberk sisinya dengan garis-garis sempurna membentuk puisi. Aku mencintaimu, karena cintaku padamu tak lain adalah puisi yang mengalirkan darah dari jantungku. Puisi yang menyejukkan hembusan nafasku. Aku mencintaimu sungguh. Setiap kesungguhanku adalah doa-doa yang dipanjatkan orang-orang kecil. Mereka para rakyat jelata persis seperti diriku di dalam puisi yang kugubah.
Sebab puisi, segala penderitaan yang aku alami, melemah tak berdaya. Lalu kau lenyapkan dengan mawar-mawar merah. Aku pun menjelma harum dalam jalan kepenyairan ini.
Sementara hadirmu adalah penghubung cinta yang kurang tepat waktu. Aku sadari, kata-kataku ini mungkin tidak akan pernah kau terima, kecuali kelak di waktu yang entah. Jujur, harus kukatakan semua ini padamu. Bahwa inilah kenyataan yang mesti kita jalani dengan wajar, atau setidaknya kita akan pura-pura bahwa kita baik-baik saja dalam lingkaran orang-orang berambut panjang di warung kopi.
Cintaku, aku menulis catatan ini bukan cara satu-satunya yang bisa kulakukan untuk menyederhanakan kesakitan yang bukan kepalang nyeri dan perihnya. Hanya saja, aku tidak sanggup untuk menyimpan sekian kisah yang terkemas kacau dari segala peristiwa-peristiwa aneh yang telah kita luruhkan bersama. Tentu kau pun begitu. Meski kau bisa bertahan dengan percakapan-percakapan gombal bersama para penghiburmu yang pesakitan. Kutahu bagimu mereka yang sehat dan akulah yang sedang mengidap penyakit yang kau berusaha untuk menghindarinya.
Baiklah, aku tidak akan mempersoalkan itu. Bukankah sejatinya kita selalu berbeda dalam hal apapun. Jalanku adalah jalanju untuk sampai padamu dan sebaliknya. Selebihnya adalah cintaku yang tak tepat waktu.
Sejak catatan ini aku mulai lagi di sini, aku juga merasa bahwa semuanya akan bermula sejak awal. Sebab, catatan lain telah lahir sebagai puisi-puisi nurani atas cinta yang aku sucikan dengan air yang deras dari mataku dan matamu di bulan akhir April yang lalu. Catatan ini akan terus mengalir, seperti kisah-kisah panjang dalam masa lalu, meski tak sepenuhnya mencair sebagaimana novel. Sebut saja catatan harian.
Di sini aku tidak akan hanya menulis kisahku denganmu, melainkan seluruh peristiwa-peristiwa yang nyangkut dalam bilik-bilik memori ingatanku. Tentang cinta, cita-cita, impian, masa lalu, suka-duka yang tinggal bekas di hatiku, hatimu, bahkan di hati orang-orang di sekitar kita. Bukankah kita sudah sepakat, bahwa yang akan abadi dan akan mengabadikan kita adalah tulisan yang dihadiahkan untuk masa dan kehidupan orang-orang.
Sebentar lagi aku akan mati di sampingmu. Aku tahu dan merasakannya. Sebelum tanda dan isyarat membuat aku tersenyum pada maut. Aku ingin menyelesaikan catatan harian ini.
Bersambung…. baca selajutnya bagian #2
Sebagai hadiah sebab Anda telah membacanya, saya persembahkan sebuah sajak berjudul “Air Kehidupan”:
Air Kehidupan
engkau serbuk bintang yang terhempas
ke lembah-lembah penyair dan mistikus
menjelma krikil-krikil emas di jari-jari
penghasut melas dan dewan perampas
engkau yang tak mengerti bahasa manusia
menjadi juru bicara antar pengusaha,
dukun, dan para perompak negeri ini,
lalu engkau diberi nama, tempat lahir,
dan mahkota selangit
betapa baik garis takdirmu
yang ditulis dalam primbon purbasangka
sementara nasib orang-orang pecintamu
tak dibaca sama sekali.
semoga engkau menjadi pelipur
bagi duka negeri dan bangsa ini!
Juli, 2015
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

