PILIHANRAKYAT.ID, BEIJING – Dalam hal Perdagangan Cina mengakui kesulitan melakukan kompromi dengan Amerika Serikat. Hal ini diakui seorang pejabat senior Cina pada hari Selasa (25/9), sehari setelah kedua pihak menambah tarif baru atas barang-barang ekspor satu sama lain.
Menurut pejabat senior Cina tersebut, kesulitan berkompomi ini dipengaruhi oleh masih adanya tenakan dari Washington terhadap perdagangan Cina.
Dalam sebuah konferensi pers, Wakil Menteri Perdagangan Cina, Wang Shouwen mengatakan, ketika pembicaraan mengenai perdagangan dapat dimulai kembali akan tergantung pada kehendak AS.
Sementara itu, di pihak lain, mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Cina, bahwa diplomat kawakan pemerintah Cina pernah mengatakan kepada para pengusaha pada pertemuan di New York bahwa pembicaraan tidak dapat dilakukan dengan latar belakang ancaman dan tekanan.
Dalam laporan reuters disebutkan, Penasihat Negara Wang Yi mengatakan bahwa pasukan tertentu di AS juga telah membuat kritik tanpa dasar terhadap Cina tentang masalah perdagangan dan keamanan, yang telah meracuni atmosfer untuk hubungan Cina-AS dan sangat tidak bertanggung jawab.
“Jika ini terus berlanjut, itu akan menghancurkan seketika keuntungan dari hubungan Cina – AS empat dekade terakhir,” kata Wang kepada anggota Dewan Bisnis AS-Cina dan Komite Nasional Hubungan AS-Cina.
Perwakilan AS di sana termasuk co-founder dan Chief Executive Blackstone Group LP Stephen Schwarzman dan Chief Executive Mastercard Inc Ajay Banga, kata Komite Nasional Hubungan AS-Cina di situs webnya.
Baik Washington maupun Beijing tampaknya tidak ingin berkompromi dalam perselisihan perdagangan yang semakin sengit. Hal ini meningkatkan risiko pertempuran panjang yang dapat meredam investasi dan mengganggu perdagangan global.
Tarif AS atas barang-barang Cina senilai 200 miliar dolar AS dan pajak balasan oleh Beijing senilai 60 miliar dolar produk AS, termasuk gas alam cair (LNG) yang terdampak pada hari Senin (24/9) karena perselisihan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia meningkat. Hal ini mengkhawatirkan pasar keuangan global dan berdampak kepada saham Asia.
Pewarta: Didik Hariyanto
Editor: Didik Hariyanto





