PILIHANRAKYAT.ID, YOGYAKARTA-Acara dialog kebangsaan yang membahas tantantangan Indonesia kedepan merupakan kesimpulan dalam menjawab persoalan gejolak-gejolak yang ada di Indonesia.
Acara ini di mulai pada jam 15.00 WIB sampai jam 18.15 WIB. Adapun pemateri yang hadir dalam acara ini dari segenap tokoh-tokoh yang ada di Indonesia.
Acara ini dibuka oleh seorang budayawan dari Madura yang menyayikan lagu kebangsaan dengan cara meniup seruling. Sehingga suasana dialog kebangsaan semakin sahdu.
Seperti yang di ketahui oleh wartawan pilihanrakyat.id langsung di tempat yang kebetulan bertempat di Gedung Punakawan, JL. KH. Ahmad Dahlan, No. 73 Yogyakarta. Pada Minggu (8/9). Acara ini bertema “Dialog Kebangsaan, Tantangan Menjaga Keutuhan NKRI”.
Hasil dari dialog kebangsaan ini diantaranya yaitu dari Jong Aceh mengatakan bahwa tantangan Indonesia Tak hanya orang-orang Papua yang mengalami penjejahan moral. Akan tetapi Aceh juga mengalami gejolak sedemikian rupa yang di kenal dengan GAM Gerakan Aceh Merdeka.
Jong Sumatra. Banyak sekali yang memotifasi kita selaku pendatang dari luar Yogyakarta. Sehingga kami mampu beradaptasi urusan budaya, pendidikan, muapun ilmu yang ada di Jogja.
Jong kalimatan. Dalam sejarah Kalimantan masih merupakan bagian dari NKRI karena Kalimantan masih banyak tokoh-tokoh yang bisa dikatakan sebagai pahlawan bangsa.
Jong Sulawesi. Kita sebagai anak perantau dari sudut-sudut Indonesia tak hanya mempunyai kepentingan pendidikan, ekonomi, dan budaya. Akan tetapi, kita hanya ingin berbaur dengan masyarakat yang lain untuk memaknai satu kesatuan dalam perbedaan yang ada di Indonesia.
Jong Maluku. 99 Maluku pernah mengalami gejolak sekita 5 tahun. Sejarah dalam gejolak itu diselesaikan oleh gubernur Jogja dengan cara penyelesaikan mengundang gubernur Jogja ke-Maluku untuk menyelesaikan konflik itu. Sehingga orang Maluku mengatakan gubernur Jogja adalah raja di atas raja-raja.
Jong Wanokwari Papua. 2014 adalah tempat perantau dari wanokwari Papua ke Jogja. Papua timbul gejolak sejak perubahan iriyan jaya di ubah menjadi Papua yang pada saat itu masih rezim Gus Dur. Sebab, disana hanya masih mengandalkan makanan seadanya. Tapi Gus Dur lah yang mampu merangkul kita dalam urusan apapun, termasuk urusan perbedaan. Yang mampu mempersatukan kami hanya ada dua yaitu Protestan, Katolik, Islam (PKI) dan yang kedua adalah bahasa melayu. Sebab, dengan agama kita menghargai, dan dengan bahasa kita.
Jong NTT. Kami datang ke Jogja bukan menjadi masyarakat NTT pendatang, akan tetapi ingin menjadi indonesia. Sebab, Jogja adalah banyak budaya, ras, etnis dan agama. Akan tetapi permasalahannya hari ini masih banyak sensasi. Dengan tidak adanya Jogja, maka indonesia tidak ada.
Jong Bali. Tantangan untuk indonesia saat ini dan massa depan itu dipicu oleh perubahan ekonomi. Sebab, ekonomi yang ada di Indonesia ini menjadi pondasi dasar dalam sebuah kesejahteraan masyarakat indonesia.
Jong Madura. Ada 3 masalah. Yang pertama adalah media, karena Indonesia merdeka itu lanyaran ada dorongan media cetak. Yang kedua. UUD 45 mampu mengelolah kehidupan bangsa Indonesia untuk tercapainya sebuah keharmonisan. Contoh yang merupakan ingin menghancurkan tatanah persatuan DPR yang ingin merubah UU KPK. Yang ketiga. Makin banyaknya ideologi asing yang masuk ke Indonesia dapat memicu untuk merapuhkan semangat Pancasila.
Indonesia yang kaya akan budaya, ras, agama yang di bungkus dengan Bhineka Tunggal Ika tidak bisa dilepas oleh lokal, agama, nasionalis. Artinya dari tiga komponen ini merupakan keharmonisan dalam bangsa dan bernegara. Pungkasnya.
(Rifa’i/PR.ID)




