Indonesia Rumah Toleransi

- Advertisement -

(Tan Hamzah)

Indonesia dikenal sebagai negara multicultural, yang mempunyai ratusan suku bangsa, dengan perbedaan bahasa di setiap sukunya, serta menganut sistem agama yang heterogen meskipun mayoritas rakyatnya beragama islam. Beragamnya akar kebudayaan tersebut tidak menghalangi terbentuknya kesatuan negara Republik Indonesia, bahkan dari keunikannya tersebut, ketika mengeksplore daerah di Indonesia akan ditemukan corak atau karakteristik budaya yang sangat plural. dari Aceh di ujung barat, agama islam sangat kuat disana, bahkan mendapat daerah istimewa dan berhak menerapkan syariat islam sebagai undang-undang daerah di wilayah provinsi Aceh, Bali di tengah Indonesia mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, mereka hidup secara komunal dan tetap mempertahankan ajaran tersebut secara turun temurun, sedangkan di Indonesia bagian timur khususnya Papua, mayoritas penduduknya beragama Nasrani. Meskipun di tiga daerah tersebut mempunyai jumlah penganut agama yang mayoritas, tetapi tetap terbuka bagi agama lain untuk menjalankah ibadahnya di wilayah tersebut.

Pemerintah Indonesia, mengakui enam agama sebagai agama resmi negara, diantara agama tersebut ialah Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Tetapi tidak memungkiri penduduk lokal masih memegang erat kepercayaannya, seperti kejawen, sunda wiwitan, kapitayan, samin, dan masih banyak lagi. ditambah adanya agama baru yang masuk, seperti Yhaudi, Baha’i dan Ahmadiyah.

Indonesia sebagai negara, mampu mengakomodir berbagai agama, menjadi suatu kesatuan dalam memajukan bangsa, antara agama dan negara mempunyai kesinambungan, maka tak heran jika dalam peraturan negara atau undang-undang, pasti ada nilai etis, yang ditinjau dari perspektif agama dan budaya Indonesia. Indonesia bukan negara sekuler yang memisahkan antara kepentingan negara dan agama, serta tidak bergantung pada pendapat serta kebijakan agama tertentu. Meskipun islam sebagai mayoritas, dan hukum juga banyak diserap dari agama tersebut, tetapi islam Indonesia mempunyai pandangan moderasi dan kemajuan yang menyebarkan nilai toleransi pada agama lain, sehingga tercipta masyarakat yang demokratis dengan kebijakan tetap berada di tangan rakyat.

Baca juga  Rumah Kertas

Salah satu indikator mengapa agama di Indonesia damai serta minim timbulnya konflik ialah adanya satu pegangan atau prinsip bersama, yakni empat pilar kebangsaan, yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhineka Tunggal Ika. Pilar kebangsaan tersebut berfunsi sebagai jembatan penyambung, diantara pemikiran bangsa Indonesia yang plural, dari segi agama, budaya, etnis, dan bahasa.

Toleransi di Indonesia tidak serta merta hadir begitu saja, proses kesadaran akan pentingnya saling menghormati dalam perbedaan telah terbentuk sekian ratus tahun yang lalu, pendiri sekaligus proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia, Soekarno berusaha menyatukan keragaman idelogi bangsa dalam satu naungan cita-cita tetapi tidak menghilangkan atau mengurangi dari nilai ideologi tersebut, Marhaenisme Soekarno merupakan gabungan ideologi yang saat itu menjadi mayoritas di tanah air, Marxisme-Islamisme-Sosialisme diolah menjadi ciri khas bangsa Indonesia sendiri, meskipun ideologi tersebut bukan berasal dari Indonesia, tetapi dengan memasukkan nilai ke-Indonesiaan ideologi tersebut bisa diterima di kalangan masyarakat pribumi.

Baca juga  Nyawa Ribuan Pedagang Pasar Muntilan Dipertaruhkan di Pasar Yang Baru

Masa pra-sejarah Nusantara juga telah diuji tentang toleransi beragama, Dinasti Sanjaya dan Syailendra, yang menganut agama Hindu dan Budha. Pada abad ke 8 Masehi mereka berseteru mengenai agama, tetapi berhasil damai setelah adanya perjanjian bersama, dan membuat tempat ibadah yang megah di bagian tengah indonesia, Prambanan sebagai candi Hindu dan Borobudur sebagai candi Budha. Damai kedua kerajaan tersebut mempunyai peran yang cukup besar bagi perkembangan agama, kerajaan Sriwijaya di kemudian hari menjadi pusat pembelajaran Budha di Universitas Nalanda, Palembang.

Baca juga  Perempuan Sebagai Objek

Di Indonesia saat ini, toleransi antar agama tetap dipertahankan, dua organisasi masyarakat islam, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mempunyai kontribusi besar, Muhammadiyah bergerak memajukan islam Indonesia melalui gerakan sosial terutama dalam pendidikan modern dan infrastruktur penunjang sosial, sedangkan NU bergerak di bidang ilmu pengetahuan pondok pesantren yang menggunakan kurikulum kitab klasik, dan berjargon islam moderat. NU aktif dalam mengawal toleransi beragama, misal turut aktif menjaga gereja atau peribadatan agama lain ketika melakukan hari raya agamanya. Tokoh  modern juga bermunculan dan menyebarkan islam yang terbuka bagi semua kalangan, salah satunya yakni KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Beliau pernah berkata semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin besar rasa toleransinya dan kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu.

Baca juga  Mahfud MD Ambil Untung Demo Mahasiswa

Toleransi di Indonesia sudah diakui oleh beberapa negara di dunia, bahkan dijadikan contoh untuk mengakomodir hubungan agama dan negara. Banyak negara yang telah mempelajari islam Indonesia atau islam nusantara, diantaranya Afghanistan, Jerman dan Australia. Perkembangan penelitian tersebut berkembang seiring dengan maraknya kasus terorisme di berbagai belahan dunia, sehingga merusak citra umat islam sendiri. dan sebagain negara eropa yang menampung imigran dari negara islam yang dilanda konflik politik, mengantisipasi akan terjadinya separatisme dalam negara, dan menimblukan kestabilan keamanan negara terganggu. Indonesia di topang oleh banyak agama bisa damai, sedangkan di berbagai negara, hubungan antar agama sering memicu timbulnya konflik saudara berkepanjangan dan sampai negara itu terpecah menjadi beberapa bagian, seperti Bangladesh dan Pakistan yang melepaskan diri dari India.

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Pratikno, Resmi Ganti Nama Tol Jakarta Cikampek II Menjadi MBZ

PILIHANRAKYAT.ID. Jakarta-Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) resmi berganti nama menjadi jalan tol layang Mohamed Bin Zayed, pada...

PSTI DIY Gelar Rakerda, LTAD Jadi Fokus Garapan

PILIHANRAKYAT.ID, Jogja – Pengurus Daerah Persatuan Sepaktakraw Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2021- 2025 terus bergerak. Setelah...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

250 Juta Harga Jabatan di Kudus

PILIHANRAKYAT.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sebelumnya telah menangkap Bupati Kudus, Muhammad Tamzil terkait kasus “jual-beli Jabatan” terus menelusuri dan memeriksa sekda dan...