Kerajaan Fiktif dan Kecelakaan Sejarah

- Advertisement -

Oleh: Tan Hamzah

PILIHANRAKYAT.ID, Sejarah di Nusantara dibangun atas cerita-cerita populer dari rakyat yang kita sebut tradisi lisan dalam disiplin ilmu sejarah, sumber sejarah semacam ini telah banyak diteliti dan dijadikan salah satu acuan sejarah non-fisik. Meski hanya dijadikan sebagai sumber sekunder (pendukung) dalam penelitian ilmiah, tetapi keberadaannya sangat membantu, terutama dalam menganalisis dan menafsirkan peninggalan sejarah yang berbentuk fisik seperti arkeologi. Alasan sumber lisan tidak dijadikan sumber primer (pokok) ialah sulit memisahkan antara kisah fiktif dan kisah fakta. Sejarah yang dituturkan telah banyak direduksi, ditambah maupun dikurangi, sehingga keotentikan sejarah yang sebenarnya menjadi samar dan hanya akan bisa diklasifikasi menurut penutur-penturnya.

Lisan lebih kuat dibanding tulisan, itu tipologi sejarah orang nusantara, hal ini bukan karena tidak mengenal huruf atau aksara, tetapi kebiasaanlah yang membentuk, suatu berita baru atau sejarah leluhur diceritakan oleh yang dituakan dalam suatu tatanan sosial-adat, pada generasi muda, dan terus berkembang, selain itu kebiasaan berkumpul atau jagong dalam bahasa jawanya, yang telah mengantarkan tradisi bercerita sangat menarik. Arus bawah atau kaum bawah yang tidak dekat dengan tradisi tulis di istana, menciptakan sejarah versi mereka, dan terbukti sampai era modern ini, bahwa isu dari mulut ke mulut lebih efektif daripada membaca sumber aslinya, inilah nanti yang banyak menimbulkan berita fiktif maupun bohong (rekaan) yang disebut Hoax.

Fiksi atau cerita fiktif lahir dari imaji manusia yang liar, dan imaji itu terbentuk dari pengalaman sosio-historis yang dialami oleh si pengimaji, Carl Jung pernah mengungkapkan bahwa sedikit banyak manusia yang lahir kemudian, akan terpengaruh oleh kebiasaan nenek moyangnya, begitu juga dengan Freud yang membenarkan pendapat tersebut, tetapi psikologi Freud menekankan pada pengalaman manusia sejak masa kanak-kanak, imaji yang diilustrasikan ketika kecil masih membekas ketika manusia tumbuh dewasa, meski hanya sedikit, gabungan antara pengalaman hidup dan imaji ini tidak bisa dipisahkan dari manusia dewasa yang normal, meskipun ada yang mengidap konstruk imaji berlebihan dan kronis, yang tidak bisa membedakan antara fiksi dan fakta/nyata, kelainan itu disebut Skyzofrenia.

Baca juga  PP Muhammadiyah Keluarkan Fatwa Haram Vape

Sejarah lisan membutuhkan imajinasi yang lebih luas daripada melihat fakta sejarah (benda) secara langsung. Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa sejarah yang dikonstruk dari lisan, yang banyak menentukan ialah versi si penutur, dan informasi dari satu orang dengan orang lain terkadang berbeda, ini biasa dalam kehidupan manusia, adanya informasi yang kurang lengkap dan ingatan yang hilang.

Cerita mitos dan fiktif telah berkembang di Indonesia sejak lama, tidak heran jika masih ada sebagian orang yang tidak percaya dan tidak ikut disiplin ilmu sejarah, akan membuat sejarah versi dirinya atau kelompoknya. Cerita kejayaan kerajaan nusantara yang familiar, dan masih ada disekitar kita tentu menimbulkan efek euphoria, dan ingin kembali pada masa kejayaan tersebut, setelah melihat kenyataan sosial yang tidak lagi mapan, dan jauh dari kejayaan versi cerita kerajaan. Kerinduan akan sejarah tersebut membuat sebagian orang yang kecelakaan dalam menganalisis sejarah ingin membuat kerajaan atau sistem sosial seperti dulu lagi, tetapi parahnya ia tidak mengenal sejarah secara konkrit, dan tidak bisa membedakan fiksi dan fakta.

Baca juga  Ussy Sulistiawati Hamil Lagi, Beginilah Komentar Andhika

Kemunculan kerajaan baru yang sedang viral di indonesia merupakan representasi dari orang yang rindu akan kejayaan tersebut, dibalut dengan khayalan yang tidak bisa dianggap realistis oleh orang normal. Memang tatanan sosial dan sistem pemerintahan yang saat ini ada, lahir dari imajinasi dan pengalaman manusia, seperti yang pernah diungkap oleh Benedict Anderson, sejarawan yang banyak menghabiskan waktu untuk mengkaji Indonesia dan Filipina, dalam karyanya yang berjudul Imagine Community tentang nasionalisme, ia menggambarkan bahwa nasionalisme yang saat itu dianggap ideologi baru (dipopulerkan masa Nazi) merupakan hasil cara dan proses berfikir manusia yang memimpikan tatanan baru dalam hal negara, dan nasionalisme itu lahir dari ide imajinatif manusia indoensia. Salim Said pengamat politik juga menuturkan nasionalisme indonesia ialah bentuk pengakuan dan bersatunya antar kerajaan-kerajaan di nusantara, karena itu indonesia tidak bisa dikembalikan dalam bentuk kerajaan (menjadi satu komando), karena kerajaan-kerajaan kecillah yang membentuk indonesia itu dan sekarang mereka sepakat membentuk nasionalisme, persatuan diantara perbedaan budaya, ideologi dan bahasa antar kerajaan.

Baca juga  Ahirnya! Jokowi Menjelaskan Tujuan Perpindahan Ibu Kota Baru

Tetapi yang lebih miris ketika ada seseorang yang tidak paham alur sejarah bangsa dan dirinya sendiri, sehingga ia terjebak dalam halusinasi dan ingin membentuk kerajaan kembali, kerajaan yang dimaksud merupakan kerajaan yang belum resmi diakui negara, dengan segala retorika tidak beraturan yang ia bangun. Kemunculan Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagad, tidak bisa kita hakimi dengan tindakan kriminal semata, tetapi pemahaman sejarah dan sastra yang kering di bangsa ini, hari ini mungkin bisa dicegah, tetapi suatu saat nanti tidak bisa dipungkiri akan hilang, karena pendidikan yang tidak sampai dan meresap pada generasi muda, terutama sejarah dan sastra, selama kita tidak menggenjot dua ilmu tersebut pada generasi muda, maka kecelakaan sejarah dan ingin membangun kerajaan fiktif pasti ada. Ini bukan soal penipuan dan tindakan criminal semata, tetapi aspek psikologi massal yang gagal dibendung oleh sistem pendidikan, apa jadinya jika sejarah hanya sebagai hafalan dan sastra hanya sebagai ekspresi kebucinan, fungsi kognitif tidak akan berkembang dan akan kalah dengan negara lain, bayangkan negara lain dengan imajinasinya sudah diarahkan ke sains, sedangkan kita masih berkutat di arah metafisika yang tidak melahirkan pengetahuan baru. Begitulah tipologi manusia Indonesia.

Baca juga  Tegas!!! Elza Syarief Laporkan Nikita Mirzani Ke Polisi
- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

PPKM di Perpanjang, WaGub DKI Jakarta; STRP Masih Tetap Berlaku

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta- Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) masih tetap...

PPKM di Perpanjang, IKAPPI Minta Percepatan Vakisin di Pasar Tradisional

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta- DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) merespons baik pernyataan Presiden dalam pengumuman perpanjangan PPKM. Namun...

Keluarkan Kebijakan PPKM,Inmendagri; Optimalkan Posko Covid19 Tingkat Desa

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta, - Pemerintah kembali memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis Mikro. Hal itu dikuatkan dengan...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...