PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Kebakaran kembali melanda kawasan industri kayu di Desa Sepuhgembol, Wonomerto, Senin malam. Sekitar pukul 21.30 WIB, asap tipis muncul dari silo penyimpanan serbuk kayu sebelum berubah menjadi kobaran besar. Para pekerja yang sedang menjalankan shift malam berhamburan keluar setelah percikan api cepat menyambar tumpukan serbuk kering di dalam ruang silo.
Upaya awal memadamkan api menggunakan APAR tidak banyak membantu. Serbuk kayu yang menumpuk memberi makan api dan membuatnya merambat cepat. Dalam hitungan menit, seluruh bagian silo berubah merah membara. Teriakan pekerja dan dentuman mesin yang berhenti mendadak menambah kepanikan. “Api naiknya cepat sekali,” kata seorang pekerja yang melihat awal kejadian.
Empat unit pemadam kebakaran Kabupaten Probolinggo tiba tak lama kemudian. Petugas butuh hampir tiga jam untuk menjinakkan api lantaran bara tersembunyi di tumpukan serbuk sulit dijangkau. Penyemprotan dilakukan dari dua sisi agar air menembus hingga dasar silo. Hingga tengah malam, petugas masih melakukan pendinginan demi mencegah api kembali menyala.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Namun kerusakan pada silo dan gangguan aktivitas produksi diperkirakan cukup signifikan. Pihak pabrik belum menyampaikan taksiran kerugian maupun penjelasan teknis mengenai kondisi internal sebelum kebakaran terjadi. Area produksi untuk sementara ditutup hingga penyisiran titik panas dinyatakan aman.
Kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran. Tim teknis memeriksa mesin, jalur listrik, serta aktivitas terakhir sebelum api terlihat. Namun bagi warga dan petugas damkar, insiden ini bukan kejadian baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pabrik kayu di Sepuhgembol berulang kali terbakar dengan pola yang mirip: percikan kecil, serbuk kayu menumpuk, lalu silo atau ruang produksi tersulut.
Kebakaran Senin malam itu kembali menyoroti lemahnya pengelolaan limbah serbuk dan standar keselamatan pabrik. Industri kayu yang bekerja dengan bahan mudah terbakar membutuhkan disiplin tinggi, namun insiden berulang menunjukkan celah pengawasan yang belum ditutup. Di Sepuhgembol, asap memang sudah hilang—tapi peringatannya masih menggantung di udara.




