Daerah  

Umat Hindu Bali di Sumbawa, Khidmat Menjaga Akar Tradisi

PILIHANRAKYAT.ID, Sumbawa- Pagi masih basah oleh embun asap wangi dupa dan kilatan warna gebogan sesaji memenuhi halaman Pura Puseh, Dusun Kembang Sari, Kecamatan Plampang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ratusan warga keturunan Bali telah berkumpul sejak subuh, para perempuan bersanggul rapi mengenakan kebaya, tangan mereka menjunjung buah-buahan dan sesajen lambang rasa syukur dan hormat kepada leluhur.

Begitu genta pura bergema, doa-doa dipanjatkan bersama, menandai puncak Hari Raya Kuningan meskipun mereka berada jauh dari pulau asal, di tanah rantau. Tradisi Galungan–Kuningan tetap dijalankan dengan penuh khidmat, mempertahankan akar budaya dan spiritual meski terpaut jarak dan waktu.

Sejarah Komunitas Bali di Sumbawa: Dari Kayu ke Pura Permanen

Baca juga  Polres Probolinggo dan Mahasiswa Gelar Baksos Presisi Sambut Ramadan

Sebagian warga kini menuturkan bahwa komunitas Bali di Dusun Kembang Sari mulai merantau sejak 1979 bukan melalui program transmigrasi resmi, melainkan atas kemauan sendiri. Pada awal kedatangan, belum ada pura, sehingga mereka membuat pura darurat dari kayu untuk tempat persembahyangan sementara.

Baru pada awal 2000-an, komunitas tersebut mendirikan pura yang lebih permanen. Menurut pemuka adat setempat, jumlah krama adat di dusun ini sekitar 120 kepala keluarga sekitar 400 jiwa.

Baca juga  Dosen UIN Suka Yogyakarta Diduga Menipu Mahasiswanya, Begini Kronologinya

Sejak itu, ritual seperti ngayah (gotong-royong) serta persiapan banten (sesajen) tetap dijalankan secara kolektif, menjaga rasa kebersamaan dan melestarikan adat leluhur meskipun berada di luar Bali.

Makna Kuningan: Meneguhkan Identitas & Rasa Syukur

Dalam kalender adat Bali, Galungan dan Kuningan muncul setiap 210 hari sebagai penanda kemenangan dharma atas adharma, dan momentum untuk menghormati leluhur.

Bagi warga Bali perantauan di Sumbawa, Kuningan bukan sekadar ritual: ia adalah penegasan identitas, warisan spiritual, dan wujud rasa syukur bahwa meskipun jauh, akar budaya dan keimanan tetap ditegakkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *