Kisah Nenek Muntiyah Yang Menjadi Pelajaran Bagi Kita, Ini Faktanya

nenek (foto: Istimewa)
nenek (foto: Istimewa)

PILIHANRAKYAT.ID,Jombang-Muntiyah adalah seorang nenek yang menjadi contoh bagi orang-orang di luar sana untuk mensyukuri hidupnya. Nenek Muntiyah, harus berjuang menghidupi cucu angkatnya dengan cara bekerja sebagai tukang pijat.

Muntiyah yang berusia 63 tahun, warga Dusun/Desa Puton, Kecamatan Diwek, Jombang. Sejak 14 tahun Lalu Nenek Muntiyah sudah mengalami penyakit tunanetra. Penyakitnya yang di deritanya masih belum diketahui apa penyebabnya, karena penglihatannya tiba-tiba tidak berfungsi.

Sejak suaminya meninggal karena sakit liver pada 22 tahun silam, Muntiyah hidup berdua dengan cucu angkatnya, Slamet 22 tahun. Slametlah lah yang selama ini menjaga Muntiyah di rumah sederhananya di Dusun Puton.

Slamet meskipun menjaga Muntiyah dia tidak mendapat penghasilan apa-apa. “Slamet tidak bekerja, yang kerja saya sendiri, saya kerja mijat,” kata Muntiyah kepada wartawan dirumahnya, Minggu (25/8).

Baca juga  Pesantren Jadi Solusi Kekacauan Ahlak, Benarkah Itu?

Muntiyah menceritakan bahwaSlamet terkena kanker nasofaring dan leukemia sejak 1,5 tahun yang lalu. “Selama setahun kemo terapi. Saya bayar orang untuk jaga Slamet ke Surabaya pakai mobil desa,” jelasnay.

Dalam perjalanan ke Surabaya, lanjutnya Muntiya, bahwa masih membayar orang untuk mengantarnya. Sedangkan pengahasilan yang didapat ketika memijat perhari hanya mendapatkan uang sekitar 20.000 Rp. Itupun masih belum tentu orang meminta jasa obatnya.

Sebelumya, Slamet periksa ke Surabya, di RSU Dr Soetomo sementara memakai Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Biaya (antar Slamet ke RSU Dr Soetomo) dari penghasilan saya mijat,” katanya.

Baca juga  Di Tengah Situasi Global, PAN Probolinggo Pilih Berbagi Lewat Bakso Gratis

Sejak sepekan lalu, kesehatan Slamet tidak lagi di harapkan oleh Muntiyah. Slamet sekarang sedang dirawat di RSUD Jombang. Antusiah masyarakat Muntiyah senang tiasa bergantian menjaga Slamet di Rumah sakit.

Antusiah tetangga Muntiyah tak hanya mengerawat Slamet, akan tetapi tetannga Muntiyah juga sering kerumah Muntiyah memberikan makanan karena Muntiyah tak lagi bisa melihat. “Biasanya dikasih beras dan makanan oleh tetangga,” kata Ketua RT 4 RW 2 Dusun Puton, Pa’i.

Aktifitas keseharian penduduk Indonesia yang mengrab pemerintah bukan hanya memikirkan urusan Pribadinya, karena banyak masyarakat Indonesia masih membutuhkan belas kasian dari pihak pemerintah. Pungkasnya. (Rifa’i/PR.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *