PILIHANRAKYAT.ID, Kraksaan-Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) sudah memasuki tahun ke empat. Saat mulai disahkan tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional, kalangan santri terus melakukan agenda-agenda untuk memperingati Hari Santri Nasional.
Sebelum disahkan sebagai HSN, tanggal 22 Oktober 1945 merupakan hari bersejarah bagi kaum santri yakni keluarnya Revolusi Jihat dari KH. Hasyim Asy’ari. Ini merupakan sejarah penting bagi kaum “sarungan” walaupun pada masa pra-Kemerdaan kaum sarungan sudah memasang badan untuk melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh Kolonial.
Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan-Probolinggo tidak mau ketinggalan juga dalam momen penting untuk tidak melakukan agenda perayaan Hari Santri Nasional.
“Perayaan Hari Santri Nasional tahun ini cukup meriah dengan berbagai agenda yang dimulai tanggal 20-22 Oktober, hari Pertama diisi dengan lomba-lomba, hari kedua dialog santri dengan tema “ Ada Apa Dengan Cinta” dan pada hari puncaknya Upacara Hari Santri Nasional” ungkap Sanusi selaku Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Badridduja, Selasa (22/10/2019).
Santri telah mencatat sejarah sebagai pejuang dalam merebut dan menjaga kemerdekaan Indonesia. Pada saat ini santri juga harus ada untuk keutuhan NKRI dan menjadikan NKRI bangsa yang maju.
“Kiai dan Santri menjadi garda terdepan dalam meraih kemerdekaan, Begitu juga menjadi garda terdepan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan” tulis Tauhidullah Badri atau lebih akrab Kiai Tauhid di Group WhatsApp Yayasan Badridduja seusai upacara, Selasa, 09.34, (22/10/2019)
“santri dengan pesantrennya punya modal (potensi) untuk mewujudkan itu, Dengan iman dan taqwa serta amal, ilmu dan akhlakul karimah, santri bisa menjadi garda terdepan dalam merealisasikan cita-cita tersebut” sambungnya
Menurut kiai Tauhid, akhlak merupakan hal penting dalam memajukan suatu bangsa sebab jika telah hilang atau merosot akhlaknya maka suatu bangsa akan mengalami kemunduran.
“sesungguhnya kejayaan suatu umat (bangsa) terletak pada akhlaknya, selagi mereka berakhlak dan berbudi pekerti mulia. Jika telah hilang (merosot) akhaknya, maka sirnalah (hancur atau mundur) umat atau bangsa tersebut” jelasnya. (Cipto/PR.ID)




