Puisi  

Puisi Penyair Bermimpi | Besok | Disuka yang Lain | Karya Matroni Muserang

Penyair Bermimpi 

bergelayut bergantung keagungan
menjelajah jauh melintasi sekat waktu

Yogyakarta, 2010

Besok

Pagi membangunkan benih-benih rindu
Yang menjelma keterpurukan waktu

Culas-culas matahari menyisakan peristiwa

Kupersiapkan jiwa di bius tenang
Kupersiapkan otak dibius tenang
Kupersiapkan tidur dibius tenang
Tuhan sampaikanlah

Yogyakarta, 2010

Merapi Adventure/Model Nina/Foto Nina

Disuka yang Lain 

di jalanan malam segala aktivitas tak tuntas
malam yang menyetubuhiku semakin tinggi

aku suka senyummu, sembilan gigi putih berjajar
persis di dua bibir manis itu
 tajam matamu, membias alis, sejuk, kerudung melapisi kedua pipi

Baca juga  Nominasi 50 Besar Lomba Cipta Puisi "Santri"

Laut jiwa semakin tak seru
makin bergetar, kencang memancar sinar
melihat keindahan
Menuliskan perjalanan

Yogyakarta, 2010

Matroni Muserang, lahir di Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura. Alumni al-Karimiyyah dan Al-In’An, Aktif menulis di banyak media baik lokal maupun nasional. Buku antologi puisi bersamanya adalah “Puisi Menolak Lupa” (2010), “Madzhab Kutub” (2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Jatim, 2010). Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja (2011), Menyirat Cinta Haqiqi (temu sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA, Malaysia, 2012), Rinai Rindu untuk Kasihmu Muhammad (2012), Satu Kata Istimewa (2012), Sinopsis Pertemuan (2012), dan Flows Into The Sink, Into The Gutter (2012, dua bahasa, Ingris-Indonesia), Sauk Seloko (PPN VI Jambi 2012). Kini mukim di Madura sebagai Dosen pada Universitas Wiraraja Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *