Ada Apa Mahfud-Khofifah Bertemu Dengan Mendagri, Ini Sebabnya

Ada Apa Mahfud-Khofifah Bertemu Dengan Mendagri, Ini Sebabnya, (Foto: Istimewa)
Ada Apa Mahfud-Khofifah Bertemu Dengan Mendagri, Ini Sebabnya, (Foto: Istimewa)

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Mahfud MD dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansah sama-sama datang ke kantor Menteri Luar Negeri Tito Karnavian. Pasalnya, sebelum Mahfud tiba di Kantor Mendagri, Ternyata Sudah Ada Khofifah di dalam Kantor.

Menko Polhukam Mahfud MD menyambangi kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Mahfud melakukan pertemuan tertutup dengan Mendagri Tito Karnavian. 

Sebelumnya, dalam pertemuan tertutup itu, biasanya akan mengobrolkan hal yang sagat penting dan urgen. Dan Mahfud tiba di kantor Kemendagri, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (17/1/2020) pukul 09.30 WIB.

Mahfud langsung masuk ke dalam, dan tidak menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya menemui Tito. Entah apa yang menjadi perbicangan dari ketiga tokoh itu sehingga sampai sekarang masih belum ada hasil keterangan yang jelas (kongrit).

Sebelum Mahfud, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa juga sudah ada di dalam. Khofifah datang ke Kemendagri ditemani dengan Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak. 

Tak hanya Mahfud MD tapi Gubernur Khofifah juga sudah hadir terlebih dahulu ketimbang Menpolhukam itu. “Iya betul (hadir juga Khofifah),” ujar Kabid Humas Pusat Penerangan Kemendagri, Aang Witarsa, ketika dikonfirmasi. 

Hingga saat ini belum ada keterangan terkait kedatangan Mahfud dan Khofifah  Kemendagri. Pertemuan tertutup itu berlangsung di lantai 3, Gedung A, Kantor Kemendagri. 

Lagi-lagi Aang mengatakan bahwa yang menjadi sorotan pertemuan dengan tiga tokoh pimpinan daerah dan pusat itu berahir tertutup. Tidak ada orang atau awak media yang bisa menerima keterangan dari hasil pertemuan itu. “Iya tertutup,” kata Aang. 

Baca juga  Talk Show IPNU-IPPNU! Gus Fatih; Pemuda Harus Punya Prinsip

Presiden Mewanti Agar Bank Muamalat Tidak Jatuh Kepada Orang Asing, Ma’ruf Amien; Tapi Bank Itu Butuh Investor

Wakil Presiden Ma’ruf Amien mempunyai cita-cita Bank Muamalat mau melakukan penyehatan kembali. Oleh sebab itu, Presiden Jokowi langsung mengatakan agar Bank Muamalat itu tidak jatuh kepada antek asing. Tapi Ma’ruf Amien mengatakan semua itu butuh proses, termasuk membahas kesiapan.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan Bank Muamalat sedang dilakukan penyehatan. Ia mengakui, memang diperlukan investor untuk membuat bank tersebut kembali sehat. 

Namun, menurut dia, Presiden Jokowi sudah mewanti-wanti Muamalat jangan dikuasai asing. “OJK akan mengawasi itu,” kata Wapres Ma’ruf Amin di Jakarta, Jumat 17 Januari 2020.

Menurut dia, Presiden Jokowi telah meminta agar lembaga keuangan, termasuk perbankan syariah terus dikembangkan. “Sekarang sukuk kita terbesar di dunia,” kata Wapres.

Bank Muamalat saat ini sedang membahas ihwal rencana penyelamatan bank dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara. “Kami sedang diskusikan seperti apa lagi, sedang di-arrangement yang mungkin bisa dilakukan dengan BUMN,” kata CEO Bank Muamalat Achmad K. Permana di Gedung Bank Muamalat, Jakarta, Senin, 16 Desember 2019.

Permana mengatakan sedang diatur skema kerja sama dalam bentuk business to business atau B2B. Karena, Kementerian BUMN juga melihat dari sisi peluang bisnis yang bisa dilakukan. “Itu sedang kami formulasikan,” kata dia.

Baca juga  HKTI Minta Pemkab Sumenep untuk cepat Atasi Kelangkaan Pupuk

Namun, Permana mengaku pembicaraan dengan BUMN itu tidak dipimpin langsung olehnya. “Saya tidak bisa disclose, tapi sedang saya formulasikan. Apakah dari Himbara atau tempat lain, tapi yang jelas (harus) meet dengan ekspetasi kita mendapatkan persetujuan OJK dan mendapat pemegang saham mayoritas,” ujarnya.

Sebelumnya, perusahaan yang didirikan pada 1 November 1991 oleh kelompok Islam ini mencari kucuran dana segar lebih kurang sejak 2 tahun lalu. Kebutuhan penyehatan Bank Muamalat pun tampak kian mendesak.

Salah satunya karena kinerja bank pada paruh kedua tahun ini memburuk seiring dengan merosotnya kemampuan rentabilitas bank. Dana segar tersebut hendak digunakan untuk menambal aset bermasalah yang membengkak.

Rasio pembiayaan macet atau NPF Bank Muamalat sebetulnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak 2013. Puncaknya yakni pada 2015, di mana rasio pembiayaan bermasalah kotor perusahaan mencapai 7,11 persen atau lebih kurang hampir Rp 3 triliun.

Jumlah itu terhitung sangat besar. Angkanya hampir serupa dengan modal inti Bank Muamalat yang per 31 Desember 2015 sebesar Rp 3,13 triliun.

Kemarin, Bank Muamalat menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB. RUPSLB itu menyetujui rencana right issue atau penerbitan saham baru sebesar Rp 2 triliun.

RUPSLB Bank Muamalat itu juga menyetujui untuk menerbitkan sukuk yang direncanakan Rp 6 triliun. Pengajuan right itu itu dilakukan lagi karena pengajuan tahun lalu tidak terealisasi sesuai dengan targetnya. “Karena itu kita harus perbaharui izinnya. Jadi dua izin yang pertama untuk right issue maupun subdebt itu kita mintakan kembali, tentunya kita berharap itu bisa kita realisasikan dalam waktu dekat secepat-cepatnya,” kata Permana.

(Rifa’i/PR.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *