Cerpen  

Rahasia Alin

Oleh: Dwi Intan Humaira

Seperti malam-malam sebelumnya, mendung tebal menitikkan hujan rintik. Hawa setengah dingin perlahan menyusupi pori-pori yang kaku dan dibaluti perasaan tak menentu. Sunyi mengiris gelak tawa dan percakapan orang-orang, di warung kopi tempat biasa orang-orang saling tunggu.

“Ada apa denganmu, Alin?” tanyaku lirih. Hembus nafasnya berat menahan sesak.

“Nggak ada apa-apa,” jawabnya ketus.

“Sudahlah, tak perlu kau cadari wajah resahmu itu. Aku semakin tidak mengerti cara berpikirmu!” cakapku lagi yang tak berarti sapa buatnya, kemudian menghisap sebatag rokok dalam-dalam. Terasa ada yang dipendam dalam hatinya.

Gambar “Rahasia Hati”/ Pilihan Rakyat

Aku semakin tidak paham dengan perempuan yang kini duduk di depanku dengan wajah lesu. Perempuan yang sejak setahun lalu aku mengenalnya dan kemudian akrab, dia selalu bercerita panjang lebar sampai lupa waktu. Cerita apa saja, tentang cintanya, kekasihnya, keluarganya, dan apapun yang penting bagi dirinya. Aku meski tidak selalu suka dengan cerita-ceritanya, kupaksakan kehendak untuk selalu jadi pendengar setianya.

Sejak setahun silam, ia selalu punya cara untuk merayuku sekedar mendengakar keluh kesahnya. Sampai ia mendekatiku dengan cara yang menurutku terlalu berlebihan. Ia mendekatiku dengan cara mengejekku “jelek” saat keadaan rambut panjangku tergerai, lantas ia mendekatiku dan kemudian menggelung rambutku. Awalnya aku risih dengan tingkahnya bahkan tidak jarang aku hamper marah. Namun perasaan-perasaan yang semacam itu aku buang jauh-jauh demi menjaga perasaannya dan demi persahabatanku dengannya.

Lantaran sikapnya yang berlebihan itu, teman-temanku berpikiran miring padaku, pada hubungan persahabatanku dengannya. Tetapi aku lebih memilih diam dari pada harus melayani percakapan mereka yang sangat membakar telinga dan amarahku. Akhirnya sejak perjumpaan itu, aku tidak lagi membalas SMS darinya. Sengaja aku lakukan itu demi kebaikannya. Sebenarnya aku tidak menginginkan semua itu.

Baca juga  Pisau Ingatan Bulan April (Bagian Kedua)

Aku tahu dengan sikapku yang mungkin juga berlebihan dan kekanak-kanakan menurutnya, telah membuatnya sedih kemudian menangis setiap kali SMS tidak aku balas. Sebagaimana aku yang tak nyenyak dalam tidur setiap malam, sejak aku tak mahu memabalas SMSnya. Akupun resah memikirkannya, beragam kemungkinan tentangnya muncul dalam pikirannku, firasatku selalu tidak enak tentangnya. Mungkin dia merindukanku sebagai teman yang setia mendengarkan cerita-ceritanya.

Selain resah lantaran rasa bersalah di hatiku karenan tidak pernah membalas SMS yang bertubi-tubi. Seorang teman dating menemuiku suatu malam, ia membawa kabar bahwa perempuan yang memilihku untuk menjadi teman mengungkapkan segala gelisahnya sedang sakit. Aku kaget dan semakin merasa bersalah mendengar kabarnya dalam keadaan sakit sejak sehari setelah SMSnya tak pernah aku balas. Beberapa saat kemudian, ponselku berdering, ada SMS masuk, ternyata dia yang SMS.

“Jika maut mampu menghentikan rindu, maka aku tidak akan menunggu ia datang, melainkan akan aku jemput ia sekarang. Sebab, kerena rindu pula, kini aku tengah mati perlahan.” Isi SMSnya benar-benar mengantar ketakutan yang dalam di hatiku. Aku hampir tak sanggup menggerakkan jemari sekedar meletakkan ponsel di atas meja, apalagi mengetik ahuruf-hurufnya. Sungguh aku tak sanggup memaknai SMSnya. Lama aku pandangi layar ponselku dan membaca SMSnya berulang-ulang, sampai dating SMS yang kedua.

 “Aku terus bertanya-tanya beberapa malam ini, siapa yang berani mengurungmu di alam mimpi? Hingga kau lupa bangun dan bergurau denganku?” SMS yang membuatku berperasangka bahwa dia seperti telah kehilangan rasa percaya diri. Aku benar-benar sepi ketika itu. Dan tetap tak mampu membalasnya.

Baca juga  Malam Di Blandongan

***

Sementara malam kian larut meski percakapan dan ketawa orang-orang di sekitarku masih riuh mengisi warung kopi. Namun tidak dengan dirinya dan aku yang sama-sama terjerat oleh pertanyaan dan prasangka-prasangka yang menakutkan.

Dalam-dalam aku menarik nafas untuk sekedar mengungkapkan sepatah kata. Entah pernyataan atau pertanyaan, suaraku menjadi samar di tengah ucapnya yang tak tertangkap di telingaku. Aku tertawa kecil sambil menyembunyikan kekikukan yang tergambar di bibirnya. Meski sebenarnya aku hanya pura-pura masam di depannya. Sebab di mataku tampak sesuatu di wajahnya yang layu.

“Alin, katakanlah sesuatu padaku,” pintaku membuka percakapan kecil.

“Apa lagi yang harus kukatakan? SMS-ku itu sudah cukup.” Jawabnya lirih dan ketus.

“Aura wajahmu yang memaksa. Bukan aku.”

“Iya, tapi aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi.”

“Aku tahu, kau takut kan, sesuatu yang lain akan terjadi?” Alin menjadi dingin dan matanya berkaca-kaca.

“Baiklah Alin! Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah yakin bahwa apa yang kau lakukan padaku adalah bagian dari perasaanmu. Dan aku tulus menerimanya. Kupikir kau telah mampu untuk merasakan semua itu dari SMS yang aku kirim padamu, sejak dulu. Hanya waktu dan keadaan yang memaksaku untuk menyimpannya rapat-rapat.” Seperti kilat menggores langit, aura terang terpancar di wajahnya.

“Apa kau masih takut dengan kenyataan yang harus kita hadapi ini?”

“Tidak! Hanya aku tak mampu menjalaninya.” ia tersenyum sumringah.

Yogyakarta, 2011/2015

Dwi Intan Humaira, lahir di Sumenep 20 Februari 1995. Kini tinggal di Yogyakarta menempuh pendidikan S1 pada Jurusan Sastra Inggris di salah satu Universitas Negeri. Selain itu, ia juga aktif di Paguyuban Sastra Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *