Moli, perempuan anggun asli Jogja. Ia hidup dalam keluarga kaya. Bapaknya seorang pengelola Hotel berbintang dan Ibunya pemilik toko Busana Batik. Moli anak kedua dari dua bersaudara. Ia anak gadis yang dimanja oleh Bapaknya. Sejak usia kanak, Moli suka memelihara anjing. Setiap pulang sokolah, waktu mainnya dihabiskan bersama Poppy, anjing kesayangannya. Ia suka bergaul dengan siapapun dan akrab dengan kakaknya. Tiada yang kurang dari kehidupannya. Walaupun Ibunya lebih sayang pada si Kakak, Ia tidak kurang perhatian dari sosok seorang Ibu yang menemaninya setiap hendak tidur.
Moli anak yang manja. Ia tidak pernah mau beranjak dari kasur empuknya sebelum air hangat sudah tersedia di bak mandi. Menjelang sarapan, daging untuk Si Poppy pun harus telah tersedia. Jika tidak, Ia hanya akan memandangi sepiring nasi dengan telor mata sapi di atas meja. Biasanya, setiap mau berangkat ke sekolah diantar Bapaknya, ia menemui Poppy memberikan makan dan mengelus bulu coklatnya.
![]() |
| Gambar “Mata”/ SEL/Pilihan Rakyat |
Di sekolah ia terbilang Siswi yang suka membandel dan nakal. Tapi dia cerdas dan pintar serta suka menabung. Pandai bergaul, baik hati dan tidak memilih-milih teman. Hanya saja dia lebih suka bermain dengan Poppy dari pada menghabiskan waktu mainnya bersama anak-anak seusianya sepulang sokalah.
Pada sebuah sore, Moli jalan-jalan bersama Poppy di halaman hingga ke luar pagar. Saking asyiknya main, Moli tidak melihat dan tidak mendengar ada suara mobil dari arah yang berlawanan. Dia masih tertawa-tawa kecil melihat Poppy menajamkan penciumannya ke aspal. Tiba-tiba Poppy meloncat ke tengah jalan melihat sepotong daging segar. Moli membiarkannya, dan tiba-tiba darah dingin menjeprat ke mukanya. Sadarnya, Poppy telah digilis mobil yang melaju berkecepatan sedikit kencang.
Sejak saat itu Moli benci warna merah. Sejak itu pula, ia tidak lagi pandai bermain senyum. Bola matanya tak lagi memancarkan sinar permata. Sayu. Aura wajahnya mengguratkan bias kehilangan di tinggal Poppy. Makan, Ia tak berselera. Tidur Ia tak lelap. Bahkan bicarapun, enggan. Segala rayuan penghibur bapaknya, sidikitpun tak merubah keruh wajah sedihnya. Apalagi perhatian sang ibu, hanya mampu memindahkan posisi tubuhnya di atas kursi ke atas kasur. Sementara kakaknya, hanya sanggup menahan nafas dalam-dalam melihati Moli bermuram durja sembari mempelintiri poni rambutnya.
Berbulan-bulan Moli enggan keluar kamar. Sulit untuk diajak bicara. Maunya hanya bermain dengan Poppy. Keinginannya bukan untuk ditemani dan dihibur. Kecuali kembali setiap pagi memberi makan si Poppy. Bapak, ibu, dan kakaknya menggurut dada sambil menitikkan air mata melihat Moli murung diri di rundung sedih ditinggal anjing kesayangannya.
Lantaran jarang mau makan, tubuh Moli tak lagi lansing berisi. Ramping tinggal kulit yang kering. Matanya kian sayu dengan aura wajah yang semakin layu. Kesedihan mendalam mendera bapakknya yang setia memanjanya. Semua menjadi angan-angan tak sampai. Ibupun tambah sayang dan perhatian padanya. Namun, segalanya sia-sia. Moli tak lagi mempu merasakan semua itu. Kepergian Poppy telah merenggut kebahagiaannya dan telah menutup mata dan hati pikirannya untuk siapapun.
Suatu siang Moli bermain-main bayangannya sendiri di halaman rumahnya, di samping kandang Poppy yang masih terawat bersih. Ia berlari-lari kecil mengejar bayangannya sendiri. Sesekali merangkak sambil tertawa kecil kemudian berhenti dengan wajah keruh kesedihan. Tersenyum geli menatap kandang Poppy yang sunyi.
Seorang perempuan setengah baya menghampirinya, dengan pakaian resmi seorang PNS. Moli terkejut, tatapnya terhenti membelalak lekat-lekat, seolah Ia pernah mengenal dan atau sempat melihat perempuan yang datang menghampirinya.
“Ibu hendak mengantar Poppy kan!” Sapa Moli manja menyemburatkan aura penuh pengharapan seraya memeluk separuh tubuh perempuan itu.
“Moli… Poppy siapa? Ibu datang kemari untuk mengantarkan…”
“Mengantarkan Poppy Kan Bu…” celetuk Moli nyerocos memotong percakapan seraya melepaskan pelukan eratnya.
“Tidak Moli… Ibu kesini mau mengantarkan surat dari Kepala Sekolah pada Bapakmu…” Tukasnya, tanpa tahu bahwa ucapan itu kian semakin membengkakkan kesedihan dan kekecewaan di hati Moli. Dengan perasaan sedih Ia meninggalkan perempuan setengah baya di depannya tanpa meninggalkan sepatah kata. Kecuali isyarat langkah yang berat kekecewaan.
***
Moli semakin hari kian melupakan orang-orang yang ada perhatian padanya. Entah dengan cara bagaimana dan siapa yang mampu menghiburnya. Sekedar meriakkan setitik sunyum atau membiaskan aura ria di wajah pasinya. Melihat keadaan Moli yang semakin hari tambah murung dirundung kelam. Praharapun pecah diantara bapak dan ibunya. Hampir setiap malam suasana hiruk pikuk perang mulut membisingkan isi rumah. Pagi harinya, tak jarang ada gelas atau piring yang pacah membentur keramik bening warna kecoklat-coklatan. Warna kesukaan Moli, warna bulu si Poppy.
Moli masih terus tenggelam di palung kepiluan. Seperti bunga yang terhempas dari vas. Tinggalah layu.
Setahun berlalu. Moli kembali membuka mata. Namun, semuanya sudah jauh berbeda dari apa yang diharapkan. Moly sudah tidak menemukan sosok yang ia sayang dan menyayanginya di rumahnya. Semua sudah hancur menyusul kepergian si Poppy.
Sampai Moli kehilangan kepercayaan pada orang lain. Seolah yang mengerti hidupnya hanya dirinya sendiri. Dia tidak pernah mau mendengar apa kata orang, kecuali kehendak nurani atau nafsunya sendiri. Dengan begitu, Ia memilih hidup liar di luar. Keluar masuk diskotik tanpa ada yang melarang. Sampai Ia berani menjalani bisnis dengan transaksi sembunyi-sembunyi.
Di diskotik suatu malam Ia bertemu dengan seorang lelaki perkasa sebagaimana sosok bapaknya dulu. Moli merasa nyaman dan tenang ketika bicara dengannya. Sambil berjalannya waktu, Moli-pun menerima pernyataan cinta lelaki perkasa itu. Jalinan kemesraan terpancar dalam hubungan mereka. Dan kembalilah Moly pada kehidupan yang damai dan berakhirlah Cerita Moly sebagai pengedar obat-obaran terlarang.





